,
13 Maret 2020 | dibaca: 546 Kali
Hamdan: Usut Tuntas Pungli Di Jajaran Dinas Pendidikan                       
noeh21

                                            
Skandal Lubuklinggau

Maraknya pungli  di jajaran Dinas Pendidikan Kota membuat aktivis Hamdan gerah. Hal dikatakannya kepada skandal Kamis(12/03/20).

"Kami aktivis mendesak pihak Dinas pendidikan Kota Lubuklinggau untuk mengusut tuntas kasus pungli yang membuat masyarakat resa. Kami LSM PPAN yang peduli dunia pendidikan dan kawan-kawan  akan melakukan perlawanan aksi, bila kasus pungli tidak ada tindak-lanjut siap melaporkan kepihak hukum'untuk mengusut tuntas,"  kata Hamdan.   
                                             Menurutnya pungli tersebut merugikan masyarakat dan merusak citra dunia pendidikan. Dia menyebut bererapa kasus yang terjadi di antaranya: SDN 52,SDN 28,SMPN 1,SMPN 6 , yang diduga sudah terang-benderang melakukan pungli dan mengangkangi Permendikbud nomor:43 tahun 2020 tentang pengelolaan dana APBN dimasing-masing sekolai.

"Bunyinya aturan tersebut dilarang untuk memungut biaya apapun karena menurut Permendikbud sangat tidak diperbolehkan meminta/ memungut kepada Murid dan Wali Murid," tegas Hamdan
                                     Beberapa wali murid di SDN tersebut mengaku kaget atas pungutan yang dilakukan oleh pihak sekolah. Padahal Kemendikbud RI melarang pihak sekolah dan komite melakukan pungutan. Tapi itu hanya gertak sambal, 

Kementrian Kebudayaan yang meminta elemen masyarakat untul melapor pada saluran yang ada baik pengaduan di kementrian pendidikan maupun kepada Saber pungli.

Informasi dihimpun, awak media bahwa pungutan dilakukan oleh pihak komite atas permintaan pihak sekolah, dan pihak komite memberikan selembaran yang berisikan bahwa per anak wajib membayar uang senilai Rp.50 ribu /siswa untuk membangun WC dan Gapura dengan batas akhir pembayaran tertanggal 10 maret 2020.

ZA (39)  wali murid merasa keberatan atas penarikan uang sebesar Rp.50 ribu. Apalagi jaman sekarang mau cari uang 50 ribu saja susah, dengan terpaksa dirinya harus membayar.

“Anak saya itu takut masuk sekolah lantaran takut ditagih guru karena belum bayar iuran sebesar Rp 50 ribu dan batas akhirnya hari ini 10 maret,” keluhnya.

Sementara , Nahnu Kepala SDN 28  Lubuklinggau kepada awak media melalui via telpon membenarkan bahwa adanya pungutan tersebut, 

Menurut Kepsek, hal tersebut dilakukan atas pemintaan komite sekolah sedangkan dirinya hanya mengetahui saja ada pungutan dan besarannya.

“Ia saya mengetahui adanya pungutan itu dan saya menyarankan ke komite agar yang dipungut itu siswa yang orang tuanya bukan guru di sini sedangkan yang siswa orang tua gurunya disini tak perlu bayar,” jelasnya.

Sumber SDN 28  Nahnu juga mengatakan bahwa sejauh ini dilakukannya pungutan itu karena di RKS tidak ada usulan dan DAK juga tidak ada anggarannya, sedangkan Dana BOS sendiri ada dananya cuma untuk keperluan lain bukan untuk bangun WC dan Gapura.

“Ada dana kita itu yakni dana BOS tapi dana bos digunakan untuk hal lain mangkanya kita minta sumbangan ke wali murid sebesar Rp.50 ribu melalui komite untuk bangun Gapura dan Wc,” jelasnya.

Hal senada dikatakan Ketua Komite SDN 28. Agus membenarkan adanya pungutan tersebut atas dasar pemintaan sekolah agar komite berinisiatif mengumpulkan wali murid untuk patungan membangun Wc dan Gapura. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu, bahkan dirinya menanyakan bahwa kegiatan tersebut program dari mana?
                                                            
​​​​​Di tempat terpisah Tamri Kepala Dinas Pendidikan Kota Lubuklinggau saat ditelpon tidak mengangkat, termasuk saat dikonfirmasi melalui WhatsAppnya.(Tim).
Berita Terkait
Berita Lainnya