,
19 Juli 2020 | dibaca: 349 Kali
Diduga Tidak Sesuai Bestek, Proyek Pembangunan Jalan Sabbang - Tallang Mulai Rusak Parah.
noeh21

Makassar, Skandal

Proyek pembangunan Jalan Trans Sulawesi Sabbang Tallang menuju Kecamatan Seko yang dikerjakan oleh salah satu perusahan dari makassar PT M tahun 2019 yang menelan anggaran sebanyak kurang lebih Rp 24 Meliar, ternyata sudah rusak parah

Proyek tersebut di duga dikerja asal-asalan alias tidak sesuai bestek (ketentuan) hingga kemudian tidak bertahan lama. 

Beberapa masyarakat dari Kecamatan Seko dan Kecamatan Rongkong menyampaikan, proyek tersebut hanya hanya se-umur jagung tidak dapat dinikmati masyarakat.

Tahir yang biasa disapa pak Dandi, salah satu pedangan bahan campuran ke Seko mengatakan, penyebab rusaknya jalan menuju Seko pada bagian Tabembeng sampai ke Mabusa dikarenakan Matrial yang digunkan diduga tidak masuk standar.

Hal itu terbukti saat di hujani, timbunan tersebut langsung becek dan habis di bawah Air ke selokan kembali. berbeda dengan matrial yang digunakan oleh PT. Gangking Raya pada pekerjaan yang ada di Sodanga Kecamatan Seko, benar-benar mengunakan timbunan pilihan dari tanah yang bercampur kerikil. Dan proyek itu masih tetap untuk  anggaran Daerah," kata Tahir minggu 19/72020).




Hal tersebut juga disampaikan salah satu warga Desa Limbong Kecamatan Rongkong, Anggi. Menurutnya timbunan yang digunakan PT. M diduga tidak berkualitas hingga tidak bisa bertahan lama. 

"Menurut saya, semua pekerjaan PT. M untuk wilayah kecamatan rongkong tidak ada yang tidak bobrok mulai dari Desa komba sampai pada wilayah Mabusa.

"Beberapa titik pengaspalan pada bagian komba hancur akibatnya tidak menggunkan timbunan pilihan yang memadai sehingga pada saat hujan habis di terkikis air.

"Harapan kami sebagai masyarakat kecamatan Rongkong, pihak perusahan melakukan perbaikan secepatnya agar akses menuju kecamatan Rongkong dan seko normal kembali, " ucap Anggi.

Di konfirmasi ke salah satu rekanan perusahaan Agung, mereka tidak berani memberikan keterangan apa-apa hingga kemudian di arahkan untuk menghubungi  Edi selaku penanggung jawab.

Saat di di hubungi  melalui via seluler selaku penanggung jawab perusahaan,Edy tak di angkat. Di konfirmasi melalui pesan singkat pada whatsaap juga tak memberikan tanggapan hingga berita ini di muat belum ada tanggapan dari pihak perusahaan.

Terpisah, Agus salah satu aktivis asal kecamatan rongkong kabupaten luwu utara, meminta kepada pihak perusahaan segera melakukan perbaikan mulai dari desa komba sampai di mabusa karena itu masih tanggung jawab kontraktror.

"Saya kira pihak perusahan paham bahwa retensi adalah jaminan pemeliharaan bukan keuntungan pelaksana. Jika pihak pelaksana tidak secepatnya memperbaiki PPK hurus bertindak dengan menggunakan dana rentensi yang belum cair sebesar 5% dari total anggaran," imbuhnya.

Lanjut Agus, kami tidak akan diam dengan masalah ini dan akan segera melaporkan ke Kejaksaan tinggi di pronvisi atau ke KPK agar segera memanggil semua pihak yang terkait, mulai dari PPK, Konsultan Perencana, konsultan Pengawas, dan pelaksana Kegiatan untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana prosedur hukum yang berlaku, karena kami menduga ada kerugian negara dalam proyek ini hingga kemudian tidak bertahan lama, " tutup Agus. (Td)
Berita Terkait
Berita Lainnya