,
01 Januari 2018 | dibaca: 617 Kali
Wanita Karir Rentan Selingkuh
Selingkuh, Dominasi Pelanggaran Aparatur Sipil Negara
noeh21
Masih ingat Ishadi?  Mantan bos TVRI dan TPI ini, dalam sebuah seminar mengenai wanita karir, pernah mengeluarkan sebuah kalimat yang menggelitik tentang wanita karir. Kata dia, wanita karir itu menyenangkan suami orang.

Lho kok begitu? Alasannya sederhana. Wanita karir itu selalu harus terlihat modis, cantik dengan balutan kosmetik. Sementara, penampilan yang menarik itu, tidak dinikmati suaminya. Melainkan, “Kaum pria yang berada di kantor,” ungkap Ishadi, yang juga mengawaki kelahiran Trans TV, milik konglomerat  Chairul Tanjung.

Karena menarik, kaum Adam pun pasti tertarik mendekati. Ada yang sekadar menyapa hai, sekadar berbincang, hingga memberikan pujian. Misalnya, “Selamat pagi. Wah, cantik nih pagi ini.” Si wanita bakal tersipu-sipu?

Diyakini, pujian itu sangat menyenangkan. Ada rasa care. Apalagi, entah karena kesibukan, si istri jarang memperoleh sanjungan dari sang suami. Dari sinilah, benih-benih simpatik pun mulai muncul. Entah menerima ajakan makan siang, curhat soal pekerjaan, hingga obrolan-obrolan yang bersifat pribadi. Akhirnya, ketertarikan itu, diwarnai dengan rasa suka – katakan saja begitu untuk tidak mengatakan asmara.

Bahkan, banyak pelbagai kalangan menyebut, makan siang sekaligus istirahat, dijadikan arena BBS (Bobo Bobo Siang) yang singkat. Tempatnya macam-macam. Di dalam mobil areal parkir yang sepi, losmen, cottage hingga hotel-hotel melati.

Sayangnya, karena sifatnya sangat pribadi, perselingkuhan wanita karir sulit dibuktikan, kecuali sekadar gosip. Ataupun terlanjur tertangkap basah, seperti seorang Bupati di Kalimantan dengan istri polisi.

Namun, banyak menyebut dalam pelbagai seminar, perempuan bekerja rentan selingkuh, karena beberapa faktor. Pertama, faktor hubungan atasan bawahan. Kedua, kondisi ekonomi. Ketiga, carut marutnya rumah tangga. Keempat, lemahnya iman, hingga mudah tergoda.



Sekadar bukti, lihat saja di Solo. Siapa sangka, kota yang pernah dipimpin oleh Presiden Jokowi ini, kasus perselingkuhan  mendominasi pelanggaran Aparatur Sipil Negara (ASN) kota tersebut. Tercatat, ada empat ASN yang diturunkan pangkatnya karena selingkuh.

“Kasus selingkuh, ada juga sesama ASN. Ada juga dengan pihak luar,” ungkap Andriani Sasanti, Kabid Pembinaan Kesejahteraan dan Kinerja Aparatur, Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Solo, Jawa Tengah.

Menurut Sasanti, satu orang ASN yang terbukti selingkuh dijatuhi hukuman penurunan pangkat satu tahun. Sedangkan tiga ASN lainnya diturunkan pangkat tiga tahun.

“Dalam menghukum ASN, kami memakai prinsip kehati-hatian dan keadilan. Seperti kasus selingkuh prosesnya lama karena harus ada pembuktian,” tuturnya.
Selain selingkuh, ada juga kasus pungli dan mangkir kerja. “Di tahun 2017 tidak ada ASN yang terlibat tindak pidana korupsi, pidana umum, mangkir, asusila, penyalagunaan wewenang, hingga jadi anggota partai politik,” beber Sasanti. (Oji)
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya