,
26 Desember 2017 | dibaca: 259 Kali
Gara Gara Petugas PLN Lalai
Satu keluaga Tewas di Sawah Akibat Tersengat Listrik
noeh21
Jenasah Amaq, istri dan anaknya tersengat listrik
Skandal NTB
 
Di Hari Natal kemarin, 4 orang yang merupakan satu  keluarga  tewas akibat tersengat aliran listrik tiang penyanggah kabel listrik yang terkelupas (bocor) di sebuah persawahan Dusun Larangan, Desa Pijot, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat,
 
Mereka yang tewas pasangan suami istri, Amaq Sinah (60) dan Inak Sanah (50). Sedang kedua anaknya Hikmatullah (35) dan Khaeriah, (30) yang tengah haml 4 bulan.
 
Amak Epul, tetangga korban sekaligus saksi mata yang melihat pertama kali korban Inak Sanah  tergeletak tanpa bergerak di persawahan. “Saya mencoba menolong, tidak berani. Karena air di sawah terasa panas,” ungkapnya.


Kepala Desa Pijot, Kecamatan Keruak,
 
Dia akhirnya bergegas memberi tahu keluarga korban dan warga lainnya.Suami korban mencoba menolong, tapi langsung tersengat hingga tewas. Lalu anak lelaki korban, Hikmatullah ikut tewas, disusul putri korban yang tengah hamil, Khaeriah.
 
Menurut Amak Epul, sekitar pukul 11 WITA, dia melihat korban sedang mencari siput dan kangkung di sawah untuk dimakan dan dijual ke pasar. Sawah tersebut lokasinya tidak jauh berada dari rumah korban.
 
“Saya tidak tahu. Kok sampai ke areal listrik tersebut mencari siput dan kangkung,” ujarnya saat ditemui Skandal.
 
Tiang listrik kecil penyanggah kabel listrik ke rumah warga tersebut sudah terpasang dua tahun lalu oleh petugas PLN, Her. Tapi, tidak diduga, kabel listriknya terkelupa (bocor). Apalagi pada saat musim hujan, sehingga membuat genangan air menimbulkan sengatan listrik.


Chaedar Manager PLN Area Lombok
Barat

 
Her, yang ditelepon saat itu, langsung menuju tempat kejadian. Dia  memutuskan aliran listrik kabel yang bocor tersebut, sehingga para korban langsung dievakuasi, di bawa ke Puskesmas Plus Kecamatan Keruak untuk pemeriksaan medis..
 
Menurut Satriawan,   Kadus Larangan menuding petugas PLN tidak bekerja profesional sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur). Bahkan banyak kabel aliran listrik yang masih berserakan pemasangannya tanpa  memberikan sosialisasi dan pemahaman yang benar        
 
“Ke depan harus memperhatikan hal-hal yang mungkin saja bisa menyebabkan musibah seperti  saat in,” ungkap seorang warga kesal.
 
Dia menilai korban keluarga Amaq Sinah merupakan  kelalaian petugas PLN yang kerjanya asal-asalan, dan memetingkan aspek bisnis ketimbang pelayanan. “Pak Amaq  beli KWH meter kepada pak Heri, langsung dipasang dengan Rp.3 juta.
 
“Ini artinya petugas PLN berbisnis dan memikirkan untungnya saja tidak memikirkan akibat dari pekerjaannya,” tandasnya.
 
Hal senada juga di sampaikan Abdurrahman Kades Pijot Kecamatan Keruak. Kata dia, petugas PLN sangat lalai dalam melaksanakan tugas, sehingga bisa berakibat fatal seperti peristiwa saat ini,satu keluarga meninggal dunia seketika. Dia  meminta kepada menager PLN Lombok Timur segera memperbaiki dan merapikan kabel listrik yang berserakan.
 
 Heri petugas PLN ketika di hubungi wartawan Skandal mengakui kesalahannya dan kelalaiannya selama ini. Dia  meminta maaf pada semua warga, keluarga korban,  pemerintah dusun dan  desa.
 
 Arif Maneger PLN Lombok Timur mengakui tenaga kerja yang dimiliki sangat terbatas , hanya 20 orang untuk wilayah Lombok Timur. “Jadi belum maksimal kami lakukan pengontrolan,” ungkapnya.
 
Dia mengharapkan semua pihak untuk memberikan bantuan informasi terkait dengan kerja dan kinerja petugas PLN di lapangan.  “Keluarga besar PLN Lombok Timur meminta maaf atas peristiwa ini dan turut   bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban dan masyarakat dusun Larangan desa Pijot terkait dengan musibah ini atau peristiwa ini,” tuturnya.
 
Sedangkan Haidar meneger area Mataram PLN wilayah NTB ketika hendak di konfirmasi oleh wartawan media Skandal melalui ponsel seluler pribadinya tidak diangkat.(@ mien)
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya