,
15 Maret 2018 | dibaca: 142 Kali
Meski Tak Pegang Uang Transaksi Penjualan
Orang Suruhan Didakwa Menipu dan Menggelapkan
noeh21

Bojonegoro Skandal

Nasib sial  dialami oleh Hariadi bin Sidi umur 57 tahun. Meskipun  sebagai makelar/blantik sapi, warga  yang tinggal di Desa Mlideg RT 01 RW 01, Kecamatan Kedung Adem, Kabupaten Bojonegoro, dinyatakan menjadi terdakwa.

Dia dituntut 4 tahun penjara,  dengan tuduhan melanggar pasal 372 dan 378 KUHPidana,  menggelapkan sebanyak 31 sapi.

Padahal, seperti dikatakan oleh kuasa hukumnya, H. Pasuyanto SH, MH, terdakwa cuma orang suruhan (pembantu) dari terdakwa Nur'aini dan Sutiyem yang kini menjadi DPO ( Daftar Pencaharian Orang).

"Pekerjaan terdakwa sesuai perintah Nur'aini, seperti mengeluarkan sapi, membawa ke mana sapi. Jadi tidak ada inisiatif," jelas kuasa hukum dalam pledoinya.

Lagipula, tersangka tidak memegang uang penjualan sapi. Sedangkan keuangan sepenuhnya dipegang oleh Nur'aini dan Sutiyem.

"Jadi, apa mungkin terdakwa melakukan penipuan dan penggelapan," jelas Pasuyanto dengan nada tinggi, sekaligus menilai dakwaan Jaksa hantam kromo (disamakan) tanpa melihat asal usul peristiwanya.

Bahkan sebagai orang suruhan, selain tidak mencicipi keuntungan, sepeda motornya juga dipinjam oleh Sutiyem hingga saat ini belum  dikembalikan.

Pasuyanto tak menampik, terdakwa yang memperkenalkan Nur'aini kepada pemilik sapi, Winarto.

"Selebihnya kendali tetap pada Nur'aini.  hanya orang suruhan," tandasnya.

Pengacara juga mempertanyakan tuduhan penggelapan tersebut, setelah mencapai 31 sapi dengan rentang waktu 3 bulan.

"Kok, sudah terkumpul 31 sapi, baru dipertanyakan ada penggelapan," jelas pengacara menggelengkan kepala.

Padahal, transaksinya setiap pengambilan sapi, seharusnya dibayar cash. "Bukannya begitu, sehingga tidak perlu setelah 31 sapi, teriak ada penggelapan," ulang Pasuyanto.

Kahumad Pengadilan Negeri Bojonegoro, Isdariyanto SH mengungkapkan sidang lanjutan akan dilakukan Minggu depan.(bono)
 
Berita Terkait
Berita Lainnya