,
07 Januari 2021 | dibaca: 134 Kali
Mantan Kanit Reskrim Terlibat Kasus 64 gram Sabu
noeh21
Medan - tabloidskandal.com
Jenry Hariono Panjaitan (43) mantan Panit Reskrim Polsek Hamparan Perak salah seorang dari 2 terdakwa perkara narkoba jenis sabu seberat 64 gram mengaku menyesali perbuatan nya, karena tidak melaporkan oknum mantan Kanit Reskrim Polsek Hamparan Perak Bonar Pohan terlibat narkotika jenis sabu.

Pada persidangan secara virtual, sambil menangis Jenry 'bernyanyi nyaring' tentang fakta hukum sebenarnya kalau oknum mantan Kanit Reskrim Bonar Pohan juga terlibat sabu 64 gram tersebut.

Selain dari penasihat hukum (PH), terdakwa menyampaikan langsung nota pembelaan (pledoi) terhadap dirinya dari rumah tahanan (rutan) lewat sambungan video call, Rabu petang (6/1/2021) di ruang Cakra 2 Pengadilan Negeri Medan.

Menurutnya, fakta persidangan telah diatur dan disusun oleh oknum untuk menyembunyikan fakta sebenarnya, termasuk dirinya sebagai terdakwa hanya melepaskan oknum yang terlibat dalam perkara aquo, dengan mengatur jalannya persidangan.

JPU (dari Kejatisu Fransiska Panggabean-red), imbuhnya, sangat nyata menutup fakta sebenarnya. JPU tidak menggali penyebab dirinya melakukan tindak pidana. Sebab faktanya, terdakwa bukan penjahat, pengedar, penjual maupun bandar berdasarkan rangkaian telah dipaparkan di atas. Sangat jelas dan nyata bahwa dirinya hanya berada di waktu dan tempat yang salah.

"Saya memang bersalah seperti yang dipaparkan di atas. Namun kesalahan saya adalah tidak melaporkan perintah atasan saya untuk melakukan perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dan diancam Pasal 131 UU Tipikor. Dalam hal ini perintah Kanit Reskrim Polsek Hamparan Perak yakni Iptu Bonar Pohan untuk menyerahkan narkotika kepada Kiki.

Dalam keadaan batin yang tinggi dan iming-iming tuntutan ringan, terdakwa telah pula bersedia merubah BAP dan untuk melindungi oknum yang terlibat dalam perkara aquo. Namun justeru malah menjerumuskannya dirinya.

Di bagian lain, terdakwa Jenry menyadari bahwa fakta-fakta yang baru disampaikan dalam pledoi tersebut memang tidak lazim karena diungkapkan setelah tahapan pemeriksaan perkara, selesai akan memasuki tahapan pembacaan vonis (putusan) majelis hakim.

Demi keadilan dan kebenaran serta bahan pertimbangan bagi majelis hakim dalam memutus perkara ini, maka pembelaan ini terpaksa diungkapkannya.

Sementara keterlibatan terdakwa warga sipil Kiki Kusworo alias Kibo, menurutnya hanya sebagai informan. Mereka berdua kini harus menahankan akibatnya karena terbuai dengan iming-iming dituntut rendah untuk melindungi oknum petugas kepolisian yang terlibat peredaran narkotika. Padahal Jenry masih memiliki tanggungan menafkahi anak-anak dan istri.

Secara terpisah, PH terdakwa, Sri Wahyuni dalam pledoinya memohon agar majelis hakim diketuai Syafril Batubara meringankan hukuman kedua terdakwa. Bila berpendapat lain, mohon divonis seadil-adilnya.

Usai mendengarkan materi pledoi, hakim Ketua Syafril Batubara spontan mencecar terdakwa Jenry Hariono Panjaitan dengan dengan berbagai pertanyaan yang pernah disampaikan pada persidangan lalu.

"Kenapa baru sekarang kau 'nyanyi'? Persidangan lalu kan saya tanya, ada lagi mau disampaikan? Kenapa waktu saksi Bonar Pohan dihadirkan di persidangan tidak anda bantah keterangannya?" cecar Syafril.

Sementara pada persidangan beberapa pekan lalu, JPU Fransiska Panggabean menuntut kedua terdakwa yakni Jenry Hariono Panjaitan maupun Kiki Kisworo alias Kibo masing-masing dipidana 8 tahun penjara dan denda Rp10 miliar, subsidair 6 bulan penjara. Yakni melanggar pidana Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Mengutip dakwaan JPU, tim Dit Resnarkoba Polda Sumut lebih dulu menangkap Kiki, Jumat (28/2/2020) dan dilakukan pengembangan. Terdakwa Kiki mengaku barang yang dipegangnya milik Jenry. (A/01)


 
Berita Terkait
Berita Lainnya