,
20 Januari 2020 | dibaca: 174 Kali
Kakek Kohar, Si Penghibah Tanah untuk Sekolah, Hidupnya Melarat
noeh21
Bangunan Sekolah berdiri di atas tanah hibah kakek Johar. Bawah, rumah tinggal kakek Kohar yang tak layak huni

Muba, Skandal

Sangat miris sekali. Orang yang sangat perduli dengan pendidikan, berubah menjadi melarat.

Bayangkan saja, tanahnya seluas 60 x 100 meter itu - termasuk bangunan rumahnya, dihibahkan demi pembangunan sekolah. 

Namun, sumbangsihnya kepada sekolah, ternyata dibalas air tuba oleh Pemkab Muba. Penggede-penggede di sana mengabaikannya, secuilpun tanpa peduli dengan orang yang sangat berjasa di dunia pendidikan. 



Skandal saat mewawancarai kakek Kohar


Dia, Kohar (65), kakek lanjut usia usia ini, mendiami rumah tak layak huni sejak 2009 hingga sekarang. Di situ pula, rumah yang beratapkan seng dan kayu dengan ukuran 3 x 4, tinggal istrinya, Nursiah.

Dulunya, kakek ini pada zaman bupati Alex Nurdin, menghibahkan tanah miliknya  ukuran 100 m X 60 m  untuk di bangun sekolah.Padahal, di atas tanah tersebut, berdiri rumah tempat tinggalnya bersama keluarga. Dia rela merombaknya menjadi sekolah.

Sekarang tanah yang di hibahkan itu berubah menjadi Sekolah Dasar Negeri Damar Asam dan SMP Negeri 10 Sungai Keruh.

Demi sekolah itu juga, dia rela tinggal di rumah yang  terbuat dari kayu beratap seng bekas bongkaran sekolah. Ukurannya sangat minim,   sekitar 3x4 m berlantaikan tanah.

Padahal di Kabupaten Muba ada berapa program bedah rumah, yaitu melalu dana DD, dinas Sosial dan Barnaz. Namun kakek Kohar luput dari perhatiaan pemerintah setempat.

Sementara ini kakek Kohar  dipercaya sebagai penjaga Sekolah Dasar Negeri Damar Asam Desa Talang Simpang Kecamatan Jirak Jaya dan SMP Negeri 10,  di beri honor sebagai penjaga sekolah 3 bulan sekali sebesar 300 ribu rupiah.

Menurut keterangan sang istri, Nursiah (65), di kediamannya, Sabtu (18/1/2019) pukul 16.00 WIB bahwa suaminya menjadi penjaga sekolah mulai tahun 2009 hingga sekarang.

“Untuk mencukupi kehidupan kami sehari hari kami mantang parah,karena gaji penjaga sekolah dibayar 3 bulan sekali sebesar 300 ribu. Jadi dak cukup untuk makan” ujar Nursiah singkat.

Nursiah pun melanjutkan cerita, suaminya mewakafkan tanahnya dengan ukuran 100 m x 60 m untuk fasilitas pembangunan gedung sekolah dasar ini dengan tujuan agar di kampung nya ada fasilitas gedung sekolah agar warga nya tidak jauh untuk sekolah.

Nursiah berharap pada pemerintah kabupaten Musi Banyuasin hanya minta perhatian pemerintah agar rumahnya sekarang dapat diprogramkan menjadi layak huni lewat program bedah rumah.

” Saya hanya berharap minta tolong kepada pemerintah agar tempat tinggal kami sekarang ini menjadi pilihan program bedah rumah agar menjadi rumah layak huni," pinta  Nursiah.

Media ini pun mencoba meminta keterangan pada kepala Desa Talang Simpang pada pukul 15.00 WIB, namun kepala desa tidak berada di rumah.

“Pak Kades lagi keluar dari siang tadi mungkin sore nanti pulang ” kata istri kades. ( dris)
Berita Terkait
Berita Lainnya