,
24 Februari 2018 | dibaca: 135 Kali
Basri Budi Utomo:
Hukum Dijajakan Seperti Barang Dagangan
noeh21
Nasri Budi Utomo


Jakarta, Skandal.

Meskipun  hukum  panglima tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri, namun fakta menunjukka masih jauh dari harapan publik. Hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI). Indonesia, Basri Budi Utomo kepada Skandal.

Basri menduga, kondisi tersebut lterjadi lantaran hukum dijajakan sebagai barang dagangan yang dengan gampang dibeli mereka yang berkuasa dan berduit.

"Wajah buram hukum kita,  ironisnya terjadi akibat perbuatan cela para penegak hukum", ujar pria yang pernah mengadukan ke KPK yang berbuntut dijebloskannya ketua DPRD Jateng ke penjara.

Menurut pria asal Pekalongan ini, banyaknya penegak hukum yang ditangkap karena memperjualbelikan hukum merupakan bukti tak terbantahkan betapa memprihatinkannya dan mirisnya penegakkan hukum.

Sebagai gambaran, Basri menunjukkan hasil survei dari tahun ke tahun konsisten menempatkan peradilan sebagai salah satu institusi terkorup ialah pertanda nyata bahwa hukum sudah runtuh.

Dalam konteks itulah, Basri  mengamini seruan Presiden Joko Widodo kepada para penegak hukum untuk tidak bermain-main dengan hukum. 

Sebagaimana dimaklumi, dalam pembekalan kepada 1.591 calon hakim di Balai Diklat Mahkamah Agung, Bogor, dua hari lalu, Presiden mengingatkan pentingnya kepastian hukum dan keharusan agar jangan sampai hukum bisa diperjualbelikan.

"Presiden Benar. Jika tidak ada kepastian hukum, jika hukum bisa diperdagangkan, kepercayaan rakyat dan kepercayaan internasional terhadap institusi-institusi negara kita akan hancur berantakan," tuturnya ketika ditemui Skandal di kawasan Kuningan, Jakarta Pusat.

Ditambahkan pria yang selalu berpenampilan dandi ini, dampak lanjutannya akan merapuhkan fondasi dalam membangun kemajuan bangsa yang berkeadilan.

"Penegasan dan peringatan Presiden itu jangan dianggap sebagai  seremonial belaka. Jajaran penegak hukum, khususnya para hakim dan calon hakim, harus menjadi pijakan dalam memerankan tugas amat luhur sebagai penegak keadilan" tandas Basri yang baru saja melaporkan dugaan korupsi PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) ke KPK.

Basri mengakuii tengah carut marut lingkungan peradilan, memang tidak gampang  hukum yang tegak lurus bisa dikedepankan, agar kepercayaan rakyat bisa dipulihkan. 

'Betul  tidak semua hakim bermental buruk. Namun, karena lingkungan peradilan kurang kondisif, begitu orang yang tadinya baik akan menjadi jahat jika masuk ke sana," tambah Basri

Basri  berharap agar lebih dari 1.500 calon hakim hasil dari seleksi yang diikuti sekitar 30 ribu orang itu bisa menjungkirbalikkan anggapan tersebut. 

Mereka akan menjalani ujian tersulit dalam hidupnya, jauh lebih sulit ketimbang saat mengikuti seleksi, yakni ujian integritas

"Kita ikut mengingatkan kepada para calon hakim untuk tidak mempermainkan hukum.Di tangan anak-anak muda yang masih bersih itulah perbaikan lingkungan peradilan dipertaruhkan. 

Jangan sampai mereka yang masih 'suci' mengikuti jejak 'kotor' senior mereka. 

Tugas hakim amatlah mulia karena di palu mereka keadilan ditentukan. 

"Saking mulianya tugas itu, hakim bahkan disebut sebagai wakil Tuhan" tandas Basri.
Berita Terkait
Berita Lainnya