,
16 Februari 2018 | dibaca: 167 Kali
Bisnis Kuliner Ketum IPJI
Sop Iga Ayuk In, Racikan Melayu Selera Londo
noeh21
Memasuki dan menikmati hari tua, Ketum IPJI ancang -ancang membangun imperium bisnis barunya. "Kuliner gak ada matinya," tegasnya.
​​___________________________________________​​​​

Diam-diam, menjelang "pensiun" sebagai Ketua Umum Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI), Taufiq Rachman S.Sos, punya gawean baru.

Menulis buku? Lelaki peranakan Betawi - Pekalongan ini menggelengkan kepala. Ia hanya menyebut bisnis baru yang tidak bersentuhan dengan jurnalis, profesi yang ditekuninya lebih dari 30 tahun.

"Bisnis kuliner," ujarnya tertawa sumringah. Tapi tidak nyemplung, cuma memberi support

Ia mengaku bisnis ini mulai dirintis  keponakannya yang tinggal di Bali. Kebetulan, sang keponakan punya resep jitu dalam meracik sop iga.

"Ternyata rasanya enak setelah saya cicipi," sambungnya. 



Sebagai entrepreneur, ayah lima anak ini mengendus peluang besar dikuliner. "Wah, ini sangat bagus, punya cita rasa sendiri," ungkapnya.

Apalagi, menurut lelaki yang mengawaki tiga periode IPJI  (15 tahun) bisnis kuliner sangat cepat mendulang untung, asalkan sesuai selera masyarakat. 

"Makanya, waktu keponakan mengutarakan ingin bisnis kuliner , saya oke banget", ujarnya 

Zsesa

Sang keponakan, Zsesa, mengiyakan. "Wah, saya senang sekali. Kan om entrepreneur," ujarnya pada wartawan ketika bertemu di Bandara Ngurai Rai, Denpasar, Bali.

Hasrat yang tinggi itu, tidak membuat Zsesa  menegadahkan tangan meminta modal besar dengan segala fasilitasnya. Ibu satu anak ini menjajakannya  melalui lewat online.

"Saya menjajakan secara online," jelas ibu satu anak ini 

Bagi Zsesa, begitu sapaan akrabya, penjualan secara online sangat efektif, termasuk biaya promo dan menaikkan branding. Belum lagi informasi yang disajikan menembus ruang dan waktu.

"Jadi costnya sangat ringan, hanya rajin menshare saja," ungkapnya.



Dia pun rajin memposting foto foto yang menarik lewat follow @sopiga_ayukin  yang dapat menggugah selera makan. Lalu, istri Pramuniaga Garuda ini meminta koment pembeli dan masukan dari pemesan. 

"Kita harus interaktif dengan pemesan," jelasnya.

Hasilnya tidak main-main. Ada saja yang memesan di seantero Denpasar dan Badung. "Wah, senangnya bukan main," ungkapnya. Bahkan, lantaran kepincut dengan rasa, ada yang repeat order.

Bahkan ada juga peminatnya dari kalangan turis. Kok bisa sih? 

Kata perempuan berkulit kuning langsat ini, menu yang disajikan bukan hanya untuk selera Indonesia, tapi dikemas sesuai selera orang bule.

Apa rahasianya? Szesa yang karyawati di perusahaan asing ini tersenyum kecil. "Itu rahasia mama," jelas menyebut mamanya asli "wong kito galoh", Palembang, Sumatera Selatan.

​​​​
Akhirnya, lewat online, tanpa sadar terbentuk komunitas penggemar sop iganya. Di sinilah lagi-lagi peluang tidak disia-siakan.

Setelah diskusi  disepakati membuat gerai. Tempat yang dipilih kawasan Sidakarya, dekat  perempatan Benoa. Tepatnya Jalan Suwung Kendal 11, Den Pasar, Bali.

"Hari Sabtu kita akan soft launce," ungkapnya, menyebut nama sop iganya 'Ayuk    in", panggilan akrab bundanya Ayu Linda, dijadikan merk sekaligus ikon sop iganya.                         

 " Gerainya kecil. Tapi dari yang kecil ini saya berharap akan jadi besar" ujar Zsesa munutup obrolan. (Jaks)
Berita Terkait
Berita Lainnya