,
28 Desember 2017 | dibaca: 94 Kali
Failsafe No Compromise, Membuat Sinyal PT LRS Melaju Kencang
noeh21
Dirut LRS Dewayana (rompi merah) saat Kunker Menhub di Kuala Tanjung Sumut

MULANYA Lembaga Elektroteknika Nasional, atau akrab dengan sebutan LEN, didirikan pada tahun 1965. Namun, 26 tahun kemudian tepatnya tahun 1991, namanya diubah menjadi satu entitas bisnis profesional dengan nama Len, meskipun Len tetapi ada embel-embel di belakangnya menjadi PT. Len Industri (Persero), sebagai wadah profesioanal, yang bertransformasi menjadi BUMN.
 
Sejak itu, LEN tidak lagi mengurusi soal elektronika saja, melainkan merambah ke beberapa bidang, seperti pertahanan, energi, dan transportasi. Semuanya menjadi unit bisnis di PT Len Industri.
 
Di bidang transportasi, mencuat nama PT Len Railway Systems (LRS), pelaku utama dan satu-satunya perusahaan yang menangani persinyalan perkeretaapian di Indonesia, termasuk menangani sistem traksi, sistem substation, sistem SCADA, dan sistem telekomunikasi di bidang perkeretaapian.
 
LRS memiiki filosofi Failsafe no compromise.

Filosofi itu diambil, lantaran di bidang kereta api, keselamatan perjalanan kereta api adalah faktor utama yang tidak boleh diabaikan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keamanan dan kenyamanan perjalanan kereta api baik sarana maupun prasarana.
 
Ini adalah aturan dalam sistem kereta api bahwa jika sistem gagal, perjalanan kereta api harus selalu pada kondisi yang aman (Failsafe). “Kami, PT. Len Railway Systems, selalu mengutamakan safety sebagai prioritas dalam kegiatan kami,”. Itulah aturan main yang tidak bisa dikompromikan oleh LRS, seperti ditulis oleh situsnya.
 
Didukung tenaga ahli yang berpengalaman dan bersertifikasi internasional, (IRSE License), PT LRS memproduksi dan mengembangkan sistem persinyalan perkeretaapian sebagai rekayasa bangsa di antara tantangan  global dan menahan serbuan produk impor.
 
Tercatat, ada beberapa proyek yang baru pertama kali menggunakan LRT (Light Rail Transit), seperti Palembang dan APMS (Automated People Mover System) di Bandara Soekarno-Hatta, LRT DKI Velodrame-Kelapa Gading.
 
Bahkan, dalam meningkatkan kapasitasnya, PT LRS juga bersinergi dengan BUMN lain, seperti dengan PT Inti. Keduanya bahu membahu dalam mengerjakan pekerjaan “Modifikasi Persinyalan Elektrik Jalur Ganda di Stasiun Prabumulih dan Stasiun Kertapati Lintas Prabumulih – Kertapati”.  Dengan demikian, dapat membantu pemerintah mensukseskan Program Strategis Nasional (PSN) di bidang perkeretaapian.
 
Bahkan, kiprah LRS pun bukan hanya sekadar “jago kandang”, namun mampu berekspansi ke luar negeri. Salah satunya, mengantongi proyek persinyalan kereta api di Bangladesh, senilai 1.5 juta USD, pada tanggal 20 Oktober 2016 lalu. Di sana, LRS berkolaborasi dengan Biswas Construction, perusahaan lokal yang memenangkan tender. Kontraknya ditandatangani langsung oleh Direktur Utama LRS, Dewayana Agung Nugroho dan Managing Director Biswas Construction, Muhammad Afsar Ali.
 
“Kami percaya LRS bisa mengerjakan proyek persinyalan ini sesuai dengan kontrak, karena telah memiliki portofolio pekerjaan yang teruji di Indonesia dan tentu harganya sangat bersaing,” papar Muhammad Afsar Ali.
 
Menurut Dewayana, di Bangladesh LRS akan memodifikasi sistem persinyalan perkeretaapian yang punya interlocking jenis VPI dengan menggunakan produk standar merek LRS,  seperti Control Console (VDU/LCP), Lampu Sinyal LED, main distribution  panel, dan lainnya diekspor ke Bangladesh dan beberapa negara lain.
 
Selain Bangladesh, menurut Dewayana, LRS juga akan membidik prospek di Malaysia. Salah satunya proyek persinyalan jalur Gua Musang – Tumpat sepanjang 290 km yang melewati 49 stasiun.

Potensi pasar lainnya yang cukup potensial adalah negara-negara Timur Tengah yang kini aktif mengembangkan kereta api.
 
Kiprahnya yang go international, tanpa melupakan proyek-proyek strategis nasional (PSN) yang diusung pemerintah dan tak lepas dari team work dalam mengembangkan organisasi perusahaan dan membangun etos kerja, tak heran bila LRS mendapat penghargaan untuk kategori “Komitmen Pengembangan Organisasi” dari PPM Manajemen. Penghargaan tersebut diberikan Agustus 2017, diterima langsung oleh Dewayana Agung Nugroho.
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya