,
25 Februari 2018 | dibaca: 73 Kali
Nyalon Presiden, Anwar Fuady jadi Ronald Reagen-nya Indonesia
noeh21
Anwar Fuadi
               
Boleh tak percaya tapi nyata.  Setting peristiwa tahun 2004. 

Waktu itu, Pilpres pertama yang diselenggarakan secara langsung di negeri kita. Semua parpol mulai mengusung ketua umumnya. Yang menjadi sorotan  waktu itu,  Golkar. 

Berhubung kala itu ketua umumnya, Akbar Akbar Tanjung, tersandera masalah hukum, maka Golkar memilih cara konvensi untuk menjaring calon yang bakal diusung jadi Presiden.  

Calon boleh dari luar Golkar. Peminatnya banyak. Aktor Anwar Fuady salah satu pesertanya.

Anwar tercatat satu-satunya aktor Indonesia sepanjang sejarah perfilman dan juga sejarah pemilu yang menjadi calon presiden lewat  konvensi. 

Dia mau meniru jejak rekam Presiden AS Ronald Reagan, serta Presiden Philipina Estrada.  Dari lokasi syuting ke Istana Presiden.

Dibandingkan peserta konvensi lain, Anwar Fuady paling aktif sosialisasi. 

Tiap jam muncul di layar televisi melalui program infotainmen. 

Maklum dia aktor terkenal, ketua organisasi artis sinetron, dan program infotainment lagi booming waktu itu. 

Satu kali dalam perjalanan menghadiri Hari Pers Nasional di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kami menumpang pesawat pribadi  Surya Paloh. 

Boss besar group Media Indonesia ini juga bakal calon presiden di konvensi Golkar. 

Pria berjanggut  lebat itu bahkan tercatat sebagai penggagas acara konvensi Golkar.

Mendekati Palangkaraya, dapat informasi cuaca buruk di sana. 

Pesawat tidak bisa mendarat. Di sarankan mendarat sementara di dua bandara terdekat:  Pangkalan Bun atau Banjarmasin. 

Pesawat yang kami tumpangi memilih mendarat di Banjarmasin. 

Semua penumpang terkejut begitu  pesawat mendarat. 

Ada penyambutan luar biasa dari Muspida setempat. 

Karpet merah digelar dari bawah tangga pesawat hingga pintu Ruang VVIP. 

Tarian selamat datang digelar.  
Beberapa anggota rombongan mendapat pengalungan bunga. 

Anwar Fuady pertama mendapat berkah itu. 
Dia melirik saya. Wajahnya memancarkan kebanggaan  dan kebahagiaan. "Rupanya begini enaknya jadi presiden"  bisiknya.

"Baru bakal calon saja sudah begini penyambutannya. 

Pantas kedudukan itu jadi rebutan walaupun negara susah,"  sambungnya sambil berkelakar. Dia memang jago kelakar.

Di Ruang VVIP tersedia pelbagai jenis makanan dan minuman. Para penerima tamu bungkuk-bungkuk melayani tamu.

Seorang pria berseragam ditanya oleh Anwar Fuady .

 "Saya kepala pangkalan udara di sini Pak," 
sahutnya.

"Bagus. Terima kasih atas penyambutannya yang luar biasa ini,"  kata Anwar lagi sambil mengamati pria berseragam tadi. 

"Siap-siap yah jadi KSAU,"  janji Aktor pemeran sinetron "Tukang Bubur Naik Haji" itu.

Tidak tahan menahan geli melihat ulah Anwar, saya pamit ke belakang. 

Di toilet saya seperti orang gila, tertawa terpingkal-pingkal sendiri.  Beberapa menit kemudian saya kembali ke Ruang VVIP. 

Saya tertegun mendapati  tiba- tiba ruangan itu sepi. 

Pejabat dan tim penjemput berikut belasan penari yang menyambut tadi tak terlihat lagi. 

Yang tinggal di ruangan rombongan saja. 

Ada apa?

Hasil investigasi menemukan fakta rupanya terjadi salah komunikasi. 

Tim penjemput  tadi rupanya untuk menyambut rombongan Presiden RI Megawati. 

Pesawat yang ditumpangi Megawati untuk menghadiri HPN juga menghadapi cuaca tak bersahabat di Palangka Raya. 

Makanya dialihkan ke Banjarmasin. 

Namun tak jadi melakukan pendaratan di Banjarmasin. Cuaca di Palangkaraya membaik. Dipersilahkan mendarat.

Singkat Cerita,  Anwar Fuady gagal meraih dukungan dalam Konvensi Golkar. 

Pasangan SBY dan Jusuf Kalla memenangkan Pilpres pertama secara langsung.

Setelah itu, saya bertemu Anwar Fuady. 

Dia tetap ceria dan bangga dengan pengalamannya sebagai aktor pertama yang berani maju untuk jadi Presiden.

"Saya juga bersyukur Pak tidak jadi Presiden,"  katanya. 

Kenapa?  Tanya saya ke Anwar. 

Dia menjawab begini:

"Ingat ada 8000 orang yang saya janjikan jabatan. Untuk kursi Wapres aja saya  janjikan  kepada 250 orang.

"Sebelum dilantik mungkin saya sudah mati dibunuh banyak orang" , dalihnya.

Tapi jadi Presiden itu enak bukan? Ya walaupun hanya sekedar bakan calon alias balon. (Lulu)
Berita Terkait
Berita Lainnya