,
20 November 2017 | dibaca: 597 Kali
Setnov Ancam Dua Pimpinan KPK Ditahan
noeh21
Setya Novanto benar-benar jadi pesakitan. Ketika tergolek di rumah sakit lantaran kecelakaan, secuilpun tak ada simpati dari masyarakat. Bahkan, kecelakaan mobil Fortunernya menabrak tiang listrik, dijadikan meme dalam medsos.

Misalnya, “Papa Setnov menabrak tiang listrik, semoga tiang listriknya tidak menjadi terdakwa.” Atau, “Setnov tertangkap bukan oleh KPK maupun polisi. Tapi oleh tiang listrik.” Macam meme yang beredar di rumah sakit.

Bahkan, di lokasi tiang listrik yang ditabrak itu, kawasan Simprug, Jakarta Selatan, dikirimi karangan bunga yang bertuliskan kira-kira begini, “Meskipun telah ditabrak, semoga penegakan hukum di negeri ini, tetap tegak seperti tiang listrik ini.” Tak jarang, masyarakat yang lalu lalang di situ, berselfie sejenak di tiang listrik itu.

Eh, sudah begitu, KPK pun tak memberikan peluang sedikit pun kepada Setnov berlama-lama di RSCM. Lewat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Setnov dinilai tidak punya penyakit serius yang mengkhawatirkan. Makanya, Setnov langsung dimasukkan ke sel KPK. Ia, buat pertama kalinya, merasakan jeruji besi, setelah beberapa kali lolos dari jeretan korupsi.

Meskipun di jeruji besi dengan pelipis memar kemerahan, tapi Setnov diyakini tidak berdiam diri. Apalagi sebagai politisi licin. Setidaknya, Setnov masih punya beberapa amunisi meloloskan dari jeretan hukum. Bukan hanya sekadar mempradilkan KPK, tapi juga lewat pengacaranya, mempidanakan dua pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Saut Situmorang. Dua petinggi KPK itu,diduga memalsukan surat pencegahan ke luar negeri terhadap dirinya.

Ternyata, laporan itu, direspon positif oleh polisi. Lho buktinya, Fredrich Yunadi menyebut keduanya sudah naik ke tingkat penyisikan. “Saya mau tunjukkan  ini ada Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) atas nama terlapor pimpinan  KPK, Agus dan Saut,” jelas Yunadi kepada awak pers di Bareskrim.

Dari SPDP yang “super kilat” itu, bukan mustahil keduanya menjadi tersangka, sekaligus bakal membuat kegaduhan lagi. Maklumlah, kasus ketua KPK jadi tersangka, pernah dialami pimpinan KPK terdahulu. Ingat saja kasus “cecak versus Buaya” yang menjerat  Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah, lalu Abraham Samad dan Bambang Widjojanto.

Ternyata, sas-sus pimpinan KPK itu jadi tersangka, disambut antusias oleh Fahri Hamzah. Politisi asal Bima, NTB ini sempat kaget. “Kata siapa? Mudah-mudahan (tertawa)., kita doakan saja,” jelas mantan politisi PKS ini mengumbar tawa.

Maklumlah, Wakil Ketua DPR RI sangat vokal mengkritik KPK. Ia juga “sponsor utama” lahirnya Hak Angket terhadap KPK oleh Komisi III DPR, partner sekaligus seteru KPK. Di mata mereka, sekalipun KPK banyak mencokok koruptor – entah anggota dewan maupun kepala daerah, menunjukkan gagalnya KPK memberangus korupsi. Bukaan menurun angkanya, tapi malah meningkat.

“Pintu masuk” inilah yang membuat pendulum politik di negeri ini bakal ramai. Bakal panas. Apalagi, hubungan KPK dengan polisi, tetap saja masih menyimpan luka, ditambah belum terungkapnya penyiraman air keras terhadap Noval Baswedan. Ataupun KPK dengan Komisi III lewat Hak Agketnya? Dan Setnov, di balik jeruji besi bakal “menonton” kegaduhan dengan berharap cemas dirinya lolos lagi dari jeretan hukum. (ian)
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya