,
11 Januari 2018 | dibaca: 160 Kali
SBY Tak Ingin Ada Penghalang Bagi AHY
noeh21

Sejak Pilgup DKI lalu, SBY “turun gunung” melakukan gerilya politik. Ia menyambangi Prabowo maupun Jokowi. Lebih-lebih soal Theresold Presidential
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Menjelang HUT RI ke-72, SBY terbilang sibuk. Ia bertemu dengan Prabowo Subianto, bos besarnya Gerinda untuk membicarakan soal Theresold Presidential yang mematok 20 persen jumlah kursi, dan 25 persen dari jumlah pemilih. Kedua jenderal ini sepakat mengritisi ambang batas calon Pilpres tersebut.

Jika Prabowo menyebutnya sebagai lelucon politik, maka menantu mendiang Jenderal Sarwo Edhie ini mengingatkan jangan sampai ada abuse of power.

Sontak saja, Presiden Jokowi angkat bicara. Ia menepis “sentilan” SBY tersebut. “Tak ada kekuasaan yang absolut,” jelasnya. Ada lembaga kontrol yang konsitusional. Entah itu DPR, pers dan sebagainya. Ia juga menyebut Theresold Presidential itu sebagai produk demokrasi, yang dibuat oleh DPR.


AHY
Meski terasa panas, tapi tidak membuat SBY alergi datang ke Istana Merdeka, sebuah singgasana yang dihuninya 10 tahun. Lho buktinya, putra sulungnya, Agus HarymurtiYudhoyono yang akrab dengan penggilan AHY, datang ke Istana Merdeka. Dia mengundang Presiden Jokowi untuk membuka Institut Center SBY. Di situ pula, AHY berbicara dengan putra Jokowi.

Lalu, yang membetot perhatian, hadirnya SBY pada HUT RI ke-72. Padahal, dua tahun berturut-turut selama kader PDIP jadi orang pertama di republik ini, SBY tidak menghadiri HUT RI tersebut. Tapi, di tahun ketiga, ia muncul menghadiri upacara kemerdekaan. Bahkan, di situ pula, mantan Kepala Staf TNI ini bersalaman dengan mantan bosnya, Megawati Soekarno Putri.

Meskipun salaman itu dinilai sebagian pihak hanya sekadar basa-basi politik – tidak merubah konsetelasi politik negeri ini, tapi di mata pengamat politik Adi Prayitno dari IAIN Syarief Hidayatullah, tetap saja ada motif politik.

"Saya percaya politikus  tidak dilahirkan, tapi diciptakan. SBY ingin menciptakan AHY sebagai politikus ulung yang sejak dini mulai membuka keran komunikasi dengan banyak kalangan," ujar Adi kepada JPNN, seraya menyebut SBY tak mau ada sekat yang membatasi langkah anaknya dalam punggung politik di Tanah Air.

Makanya,  SBY mulai bergerilya turun gelanggang, membuka jalan lebar bagi AHY ke depan. “Investasi politik tersebut,  kelak dapat dituai dengan baik oleh AHY,” ujar Adi mengakhiri. (Umang)
 
Berita Terkait
Berita Lainnya