,
04 Desember 2017 | dibaca: 166 Kali
Proyek Kereta Api Molor. Kredibilitas Zulfikri Dipertaruhkan.
noeh21
Zulfikri
Jakarta Skandal
Belum lagi genap dua bulan menjabat  Direktur Jenderal Perkeretaapin Kementrian Perhubungan, kredibilitan Zul Fikri dipertaruhkan. Pasalnya banyak proyek di lingkungan perekretaapian  tidak akan selesai sesuai  waktu yang ditentukan.
 
Di penghujung tahun anggaran 2017 ini, serapannya hanya mencapai 60%. Sedangkan  Pagu Anggaran 2017 yang dialokasikan pemerintah sebesar Rp 14,9 Triliun, 40% nya dinilai bakal mubazir.             
 
Investigasi Skandal di lapangan menunjukan, banyak proyek yang masuk dalam program  percepatan sebagaimana tertuang di Peraturan Presiden No 3 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN).             
 

Prasetyo

Di sektor perkeretaapian yang masuk PSN,  antara lain pembangunan jalur KA Makasar-Pare Pare bagian dari pengembangan lintas barat Sulawesi Bagian Selatan. Pembangunan jalur ganda Prabumulih-Kertapati. Pembangunan lintas Jambi-Pekanbaru. Pembangunan jalur ganda lintas selatan Jawa. Pembangunan lintas Jambi Palembang. Pembangunan KA ringan Jabotabek dan Sumsel. Proyek DDT serta lintas Jakarta Banten.                          –
 
Sejauh ini Skandal sulit memperoleh konfirmasi soal progres proyek yang  molor tersebut. Karena Kepala Balai dan PPK- nya menutup diri. Seperti Kepala Balai Sumbagsel, Jakarta Banten serta Jawa Bagian Tengah.                         
 
Informasi yang diperoleh Skandal banyak faktor penyebab lambatnya pekerjaan di lapangan, tidak sepenuhnya kesalahan rekanan pemenang tender. Tapi terlambatnya pelaksanaan tender  ikut jadi penyebab.         
 
 "Ini merupakan imbas dari kebijakan Dirjen lama Prasetio Boedi Tjahjono yang dicopot Menhub beberapa bulan lalu" ujar Nasir Umar pengamat perkeretaapian.               
Diujung kekuasaannya Prasetyo berhasil melelang 78 paket proyek senilai Rp 7,5 Triliun. dari 273 paket yang diprogramkan. Meski kegiatan tender dilakukan di Balai daerah, tapi diduga Prasetyo ikut memonitor dan  menggiring calon pemenang.                     
 
Menurut Nasir, ambisi Menhub Budi Karya Sumadi yang mentargetkan serapan dana di atas 90% diakhir tahun anggaran 2017, jauh panggang dari api.         

Slogan membangun Indonesia dari pinggiran dalam rangka memperkuat daerah-daerah dalam bingkai kesatuan Indonesia, baru sebatas wacana', tegas Nasir. (TIM)

 
Berita Terkait
Berita Lainnya