,
22 November 2017 | dibaca: 639 Kali
Kaburnya Setya Novanto, Antara Hilman dan Metro TV
noeh21
Hilman di kanan Setya NovantoAkhirnya, Setya Novanto merasakan pahitnya jeruji besi. Bahkan, seperti tidak ingin membuang waktu, Ketua DPR ini langsung “diangkut” ke KPK dari RSCM, setelah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyimpulkan dirinya tidak menderita sakit serius. Hanya pelipis kirinya terlihat merah, akibat mobil yang dikendarainya, Fortuner, menabrak tiang listrik di kawasan Simprug, Jakarta Selatan. Kemarin, 20/10, Setnov – begitu panggilan akrabnya, langsung diperiksa selama 5 jam oleh penyidik KPK. Terlihat mukanya pucat. Entah kelelahan atau sakit? Hanya Tuhanlah yang tahu.

Maklumlah, lelaki kelahiran Bandung, Jawa Barat, ini dikenal licin bak belut. Malah, banyak orang membumbuinya, ditambah dengan oli. Bayangkan, jika belut saja sudah licin, eh, ditambah oli lagi, pasti licinnya minta ampun. Lho buktinya, sekian kasus yang menderanya, selalu saja lolos dari jeretan hukum.

Begitupun dalam kasus mega korupsi e-KTP. Ia nyaris saja lolos, nyaris saja di-DPO-kan. Sebab, saat surat penangkapan sudah dikeluarkan, saat tim KPK “menjemput” di rumahnya sekitar pukul 21.00, mantan sopir pribadi keluarga Hayono Isman ini tak ada. Ia lenyap bak ditelan bumi. Padahal, sejak pagi sampai sore, ia berada di DPR, sekaligus memimpin rapat paripurna. Kok, malam harinya tidak ada.

Ke mana? Kata pengacaranya, Fredrich Yunadi, dijemput oleh orang tak dikenal sebelum tim KPK datang ke kediamannya. “Beliau begitu pulang, dapat telepon dari mana, suruh ketemu seseorang mungkin, saya nggak tahu,” ujarnya.

Kata dijemput itu, akhirnya menimbulkan multi tafsir di masyarakat. Kesannya, ada orang kuat di negeri ini yang melindungi Setnov. Lalu, “orang kuat” itu mendorongnya kabur dengan menggunakan pesawat pribadi ke luar negeri, seperti dilakukan koleganya Setnov, Joko Tjandara, ke Papua Nuigini, negara yang bersebelahan dengan Papua. Atau seperti M. Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Demokrat yang “bernyanyi” soal korupsi e-KTP, sekaligus menyebut keterlibatan Setnov di kasus tersebut.

Namun, jika mendengar kegusaran Fachri Hamzah, dugaan adanya orang kuat sepertinya luntur. Pasalnya, politisi mantan PKS ini, justru menyebut ada orang kuat yang memaksa KPK untuk menangkap paksa Setnov malam itu.

“Kalau ada yang berani jemput paksa Setya Novanto, itu pasti perintah datang dari orang kuat di negera ini, sehingga aparat kepolisian khususnya mau saja ikut-ikutan merusak lembaga negara,” kata Fahri.

Jadi, tak salah jika sebagian masyarakat pun menginterprestasikan ada “orang-orang” kuat yang terlibat. Satu sisi mereka yang ingin memenjarakan Setnov, sekaligus menggusurnya sebagai Ketua Umum Golkar. Satu sisi, mereka yang ingin melindungi Setnov dan mempertahankannya di Golkar. Lagi-lagi isyunya, dikaitkan dengan Pilpres mendatang.

Namun, semua analisa itu, masih prematur. Sore hari atau Kamis malam, sontak saja mencuat kabar Setnov berada di rumah sakit, akibat kecelakaan lalu lintas di Simprug. Mobil fortuner yang ditumpanginya menabrak tiang listrik. Depan mobil itu penyok (rusak), sedang Setnov menderita luka. Dua lainnya, sopir dan ajudan – Alhamdulillah, sehat wal afiat. Kok hanya Setnov yang dirawat? Silahkan Anda berinterprestasi sendiri. Apalagi kecepatan mobil itu hanya 50 km per jam.

Yang menarik, ternyata si sopir, Hilman Mattauch, adalah wartawan kontributor Metro TV. Dia menjad sopir dadakan, yang katanya menjemput Setnov untuk wawancara ke Metro TV. Cuma, seperti dikatakan oleh Don Bosco Selamun,dia menyalahi prosedur karena menjemput tamu dengan menggunakan mobil pribadi. Bukan mobil kantor. Makanya, Metro TV memecatnya sebagai kontributor.

Begitupun Setnov mengaku dimintai wawancara di Metro TV. Dari situ, rencananya akan menemui pimpinan DPD 1 Golkar pukul 20.00 WIB. Baru kemudian ke KPK. “Di luar dugaan saya kecelakaan sehingga saya terluka,” ujar Ketum Golkar itu.

Cuma pertanyaannya, apakah mewawancarai Setnov itu inisiatif redaksi Metro TV, atau sifatnya pribadi dari Hilman? Rasa-rasanya, tak mungkin redaksi Metro TV punya agenda mewawancari – apalagi ditampilkan secara live, lantaran sejak Rabu malam Setnov dicari KPK untuk ditangkap. Televisi yang didirikan Bos Nasdem itu, Surya Paloh, pasti tahu ancamannya bagi yang melindungi ataupun menyembunyikan Setnov, yaitu pasal 21 UU Tipikor dengan ancaman pidana 3 sampai 12 tahun, plus denda Rp 150 sampai Rp 600 juta.

Jadi, banyak pihak menyakini itu inisiatif Hilman sendiri, menjemput Setnov. Dengan begitu,  diduga kuat Hilman tahu keberadaan Setnov sejak awal persembunyian saat dicari Rabu malam oleh KPK. Atau, jangan-jangan, Hilman yang menjemput (disuruh Setnov?) di rumahnya ke sebuah tempat. Lalu, menuju ke Metro TV untuk wawancara? Atau dialihkan ke tempat lain? Lagi-lagi karena “licinnya” Setnov bak belut yang diolikan, hanya Tuhanlah yang tahu......(Tim)
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya