,
03 Desember 2017 | dibaca: 274 Kali
PDIP Belum Tetapkan Cagub Jateng
Ganjar Terganjal Kasus E-KTP
noeh21




Andi Naragong

Jakarta Skandal
Kicauan mantan Bendahara Umum Demokrat, M Nazaruddin  dan pengakuan dosa Andi Naragong di persidangan Tipikor ,  membuat Gubenur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo,  terbelit dalam pusaran mega korupsi E-KTP.  Nazar dan Andi sepakat pernah memergoki politisi PDIP itu bertandang ke ruangan Mustokoweni, mantan anggota Komisi II DPR.

Hanya bedanya, Nazar yang kini mendekam di balik jeruji, haqqul  yaqin Ganjar menerima uang sebesar  500.000 ribu dolar AS. Nazar, seperti pengakuannya di BAP,  melihat sendiri penyerahan uang tersebut kepada Ganjar, saat ia dan Andi berkumpul di ruangan Mustokoweni.




Nazaruddin

“Ganjar menyampaikan kepada saya , ini kebersamaan , biar program besarnya jalan,” ujar Hakim Anwar saat membacakan BAP Nazar sebagai saksi terdakwa Andi Naragong.

Sementara  Andi tak menampik pernah berkunjung ke ruang Mustokoweni. Ia juga mengaku membawa bungkusan ke ruangan itu. Cuma, pengusaha yang lulusan SMP ini, menolak bungkusan itu berisikan uang, seperti  pertanyaan hakim.

“Tidak benar. Yang benar bahwa saya (ketika berkunjung ke ruangan Mustokoweni) bawa kaos partai,” ujar Andi di persidangan.

Membantah
Seperti diketahui,  selain “bernyanyi”  keterlibatan Ganjar, Nazar yang berasal dari Pematang Siantar, Sumatera Utara, itu juga menyebut Setya Novanto. Meski diawalnya Ketua Umum DPR ini membantah, tapi KPK terus memburunya dengan ditemukannya dua bukti. Kini Setnov-begitu sapaan akrabnya, menjadi pesakitan dengan mendekam di balik jeruji.

Lalu, mantan Mendagri  Gamawan Fauzi. Ketika namanya disebut, lelaki “urang awak” ini membantah mati-matian. Sampai-sampai,  nama Allah pun dibawa-bawa demi memperkuat ketidaterlibatannya, termasuk keluarganya.

Tapi, keterangan Nazaruddin dan Andi Naragong di persidangan, berkata lain. Sang adik menteri tersebut, Azmin Aulia,  mendapat ruko di Grand Wijaya, Jakarta Selatan. Ruko tersebut diberikan kepada Azmin oleh Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra, Paulus Tanos.

“Setelah ada pemenang lelang, ruko diberikan kepada Azmin. Itu bekas kantornya Paulus Tanos yang dibalik nama  ke Azmin Aulia,” kata Andi kepada majelis hakim.

Lantas, bagaimana dengan Ganjar? Lagi-lagi, dia pun membantah terlibat “bisnis haram” E-KTP yang merugikan negara Rp 2.3 triliun.

Elaktabilitas Tinggi
Namun, bantahan tersebut, belum juga membuat nama Ganjar masuk dalam bursa Calon Gubernur Jawa Tengah. Lho buktinya, sampai tulisan ini diturunkan,  DPP PDI Perjuangan belum juga mengusungnya untuk jabatan kedua kalinya. “Belum tahu apa alasannya? Atau, jangan-jangan mereka menunggu nyanyian Nazaruddin seperti Novanto,”  ungkap pakar komunikasi politik, Effendy  Ghozali.

Menurut Effendy, tingkat kepercayaan publik terhadap Ganjar Pranomo tidak perlu diragukan lagi. Cuma, itu bukan berarti bisa bersenang-senang. Sebab, dalam politik, sangat banyak strategi mendowngrade Ganjar  karena kasus tertentu, seperti E KTP yang menyeret-nyeret  namanya.

Padahal, survey yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia (LSI), elektabilitas  Ganjar unggul dibanding para pesaingnya di bawah mencapai 10 persen. Misalnya, Ki Entus Susmono 7 persen, Musthofa 4.9 persen, Budi Waseso 4,9 persen, Bambang Sadono 4.8 persen, Ferry Juliantono 4.2 persen, Rustriningsih 4 persen, Sudirman Said dan Marwan Jafar di bawah 4 persen.

Begitupun lembaga survey lainnya menunjukkan kepuasaan masyarakat atas kinerja Ganjar.

Di sisi lain, 90 persen publik Jateng menginginkan gubernur yang bersih dari korupsi. Inilah yang mungkin membuat PDIP masih tarik ulur. Jangan-jangan, setelah direstui, eh nasib Ganjar seperti Setnov yang pada mulanya membantah, malah meringkuk di jeruji besi. (Ian)
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya