,
09 Desember 2017 | dibaca: 589 Kali
Di Tangan Mose, Pindad Terus Menggeliat
noeh21
Abraham Mose

Di kalangan profesional, sosoknya bukan asing lagi. Maklumlah, Abraham Mose – begitu nama lengkapnya, punya sederet prestasi. Lihat saja, saat dia mengawaki Len Industri, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sistem informasi, teknologi persinyalan, dan sistem elektronika tersebut. Meniti karir dari bawah, dia menjadi bos Len sejak 2012 lalu.

Lewat  “sentuhan” lelaki kelahiran Gorontalo 1961 ini, Len mampu membuat alat pembaca KTP elektronik, pembangunan lintasan monorel di Bandara Internasional Seokarno – Hatta, pembangunan Len Technopark di Subang, yang merupakan fasilitas produksi solarcell untuk memenuhi permintaan solarcell yang ada di pasaran Indonesia.




Ketum IPJI dan Abraham Mose

Keberhasilannya di Len,  membuat “orang pertama” yang mengurusi BUMN negeri ini – Rini Soemarno, kepincut. Abraham ditarik mengawaki Pindad Agustus 2016  lalu. Ia menggantikan dirut sebelumnya, Silmy Karim. Banyak menyebut, pergantian pimpinan PT Pindad tersebut menjadi bagian transformasi di perusahaan yang memproduksi alat-alat militer.

Di Pindad, jebolan teknik Elektro di Univesitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan ini, tak muluk-muluk. Ia hanya menyebut Pindad cluster yang sama dengan Len. “Targetnya, bagaimana mewujudkan kemandiran industri pertahanan dari sisi teknologi dan sumber daya manusia," ujar jebolan program magister Universitas Pajajaran, Jawa Barat, ini.

Hasilnya tidak sia-sia.Industri tentara Tanah Air ini terus menggeliat. Contohnya, produksi Medium Tank banyak diminati asing. Maklumlah, medium tank ini  berkapasitas 3 orang, dengan berat 35 Ton. Sedang kecepatan 70 km/jam, menggunakan teknologi sistem kewaspadaan mandiri, Hunter killer System, battle management System, proteksi level 5.

Lalu Senapan Serbu (SS) 3 yang merupakan produk pengembangan dari senapan laras panjang sebelumnya, SS1 dan SS2. Senjata ini mengadopsi amunisi kaliber 7,62 mm, SS3 diharapkan jadi pesaing dari senjata laras panjang sejenis yaitu Kalashnikov atau AK-47.

Tak hanya itu. Agar bisa bersaing, beberapa fitur ditambahkan pada SS3 seperti lensa teleskop infra red, dan proses penempaan pada larasnya denga metode swaging agar akurasi tembakan bisa lebih akurat.

Lainnya? Mose menyebut keberhasilan prajurit TNI Angkatan Darat menjadi juara umum dalam Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM) 2017 di Australia, Mei 2017. “Itu juga merupakan kebanggaan Pindad,” jelas Mose kepada Taufiq Rachman, Ketua Umum Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) yang juga Dewan Pengawas IMO-Indonesia di Bandung, kemarin.

Pasalnya, lanjut Mose,  senjata yang digunakan prajurit TNI dalam kejuaraan itu, buatan Pindad. “Makanya, saya berterimah kasih ke TNI,” ujar Mose tersenyum, seraya menyebut kemenangan itu melempengkan jalan buat Pindad menguasai teknologi pertahanan.

“Target tersebut bukan sesuatu yang mustahil dicapai bila kita terus bekerja, membangun team work dan berdoa,” tuturnya mengakhiri obrolan.

Berita Terkait
Berita Lainnya