,
11 Desember 2017 | dibaca: 179 Kali
Tamat, Karirnya Sebagai “Politikus Licin”
Dari Balik Jeruji, Setnov Ganti Ketua DPR
noeh21
Jakarta, Skandal

Setya Novanto, politisi Golkar yang dikenal licin dan selalu lolos dari jeretan hukum, tampaknya bakal berakhir. Kasus ‘korupsi berjamaah” E-KTP yang merugikan negara Rp2.3 triliun itu benar-benar membuat dirinya sial. Bukan hanya meringkuk di jeruji besi KPK, dua jabatan yang membuatnya dekat dengan ring kekuasaan  terpaksa harus dilepaskan.

Di Golkar, partai warisan Orde Baru yang membesarkan namanya, terpaksa diserahkan kepada Sekjen Golkar, Idrus Marham yang menjadi PLT. Sementara sebagai Ketua DPR RI, kemarin dia menyatakan mundur, sekaligus menunjuk Azis Syamsuddin sebagai penggantinya. Semuanya itu dilakukan di balik jeruji besi. Bukan saat dirinya dibelit masalah.

Lagi-lagi, meskipun mundur, lelaki asal Bandung, Jawa Barat, ini masih menunjukan taringnya. Idrus dan Azis, bukan rahasia umum lagi, merupakan “konconya” di Partai Pohon Beringin tersebut. Lihat saja, saat ada sprindik KPK soal penangkapannya, Idrus dan sang pengacaranya, Fredrich Yunadi, tergopoj-gopoh menemuinya di Gedung DPR RI sore hari,



Azis Syamsuddin

Sementara Azis, mencoba menemui Setnov – begitu sapaan akrabnya, saat “pasukan” KPK menggeledah rumahnya di kawasan Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Sayangnya, Setnov tidak di situ. Dia raib, tidak terendus ke mana. Baru sore hari esoknya, mantan sopir pribadi keluarga Hayono Isman ini meringkus di rumah sakit, menyusul mobil Fortuner yang ditumpangi menabrak tiang listrik.

Sejak itulah, Setnov jadi pesakitan. Dari rumah sakit di Simprug, dia dipindahkan dalam keadaan terbaring ke RSCM dengan kawalan KPK. Di RSCM, setelah dicek up Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tak ada sesuatu yang serius, maka dia pun langsung diboyong ke tahanan KPK dengan menggunakan kursi roda dan rompi oranye. Sejak itu, buat pertama kalinya, Setnov mencicipi Hotel Prodeo, setelah dalam beberapa kasus lolos dari jeretan hukum.

Praperadilan

Meski “kekuasaan”nya sebagai Ketua DPR dan Ketua Umum Golkar hilang, kini peluang satu-satunya Setnov lolos dari jeretan hukum hanyalah praperadilan yang bergulir di PN Jakarta Selatan. Di sini, entah kenapa, dua pengacara yang mengawalnya, Otto Hasibuan dan Fredrich Yunadi, mengundurkan diri. Kini hanya tinggal Maqdir Ismail, pengacara top yang pernah satu atap dengan Adnan Buyung Nasution.



Setnov pesakitan di KPK

Banyak menyebut, di pra peradilan ini, Setnov tidak menikmati “udara bebas” seperti halnya di pra peradilan pertama. Alasannya, bukti-bukti kuat Setnov “bermain” di E-KTP makin terungakap, menyusul nyanyian Andi Narogong di persidangan. Sebut saja, soal pertemuan di Hotel Mulya yang dihadiri petinggi Kemendagri. Bahkan, kepada Imran dan Sugiharto, Andi menyebut kunci lelang E-KTP ada pada Setnov. Saat itu, Setnov Ketua Fraksi Golkar.

Lainnya? Andi juga mengaku bersama John Marliem (almarhum, di Amerika Serikat), membelikan arloji senilai Rp 1.3 miliar di ulang tahunnya Setnov, sekaligus ucapan terima kasih perusahaannya menjadi pemenang tender proyekk “bancaan nasioal” E-KTP yang biayanya di-mark up mencapai Rp 5.9 miliar.

Nyanyian Andi Narogong dan mantan Bendahara Umum Demokrat, M. Nazaruddin itu pelbagai khalayak memperkirakan Setnov melenggar ke penjara saat usianya memasuki 60, sekaligus kiprahnya sebagai “politisi licin” yang lolos dari jeretan hukum bakal berakhir. (Ian)
 
 
 
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya