,
16 Desember 2017 | dibaca: 343 Kali
Erlangga Muluskan Jokowi Melenggang Dua Periode
Bye Bye Bye Megawati
noeh21
Terpilihnya Airlangga Hartanto menggantikan Setya Novanto membuat Jokowi bakal mulus melenggang dua periode. Bahkan, Golkar akan diperkirakan menjadi “rumahnya” Jokowi, ketimbang di PDIP yang hanya sekadar “petugas partai”
-----------------------------------

 
Kasus korupsi berjamaah E-KTP, benar-benar membuat pendulum politik di republik ini berubah. Apalagi setelah pra peradilan Setya Novanto ditolak oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, membuat Erlangga Hartanto yang terpilih secara aklamasi dalam rapat pleno sebagai Ketua Umum Golkar semakin kokoh. Bahkan dalam Munaslub yang bakal digelar pun, hanya tinggal “mensahkan” statusnya sebagai Ketua Umum.

“Kemungkinan terjadi perubahan itu kecil,” ungkap Ketua Umum Harian Golkar Nurdin Hald. Toh begitu, Nurdin tidak menyangkal di Munaslub yang rencananya dilakukan 18 Desember mendatang, tetap akan ada dinamikanya. Alasannya, Munaslub merupakan rapat tertinggi partai dan menghasilkan keputusan yang berdasar dari akar rumput.

Meskipun dinamis,seperti halnya dikatakan Nurdin tadi, pelbagai pihak pun menyakini aklamasi rapat pleno Golkar tidak akan berubah. Alasannya, lelaki kelahiran Surabaya 1962 itu didukung semua DPD Golkar, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Presiden Jokowi.


Airlangga Hartanto

Bahkan, dengan “menjadikan” menterinya sebagai “orang nomer satu” di Partai Pohon Beringin tersebut, banyak pihak menyebut, sama halnya menjadikan “rumah” kedua bagi Jokowi, setelah PDIP. Maklumlah, kedua partai ini, “jawara” dalam Pemilu entah menjadi pemenang maupun runner up. Perolehan suara keduanya, dipastikan bakal memuluskan Jokowi menetap kembali di Istana Merdeka.

Tak heran, jika santer disebutkan Airlangga sendiri, digadang-gadang bakal menjadi wakilnya Jokowi di 2019 mendatang. “Airlangga bisa berpeluang menjadi Cawapres Jokowi,” ujar  Emrus Sihombing, pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan. Alasannya, selain Golkar menjadi pionir mendeklarasikan mengusung Jokowi di 2019, juga jabatan Airlangga sebagai Menteri Perindustrian memiliki nilai jual pendamping Jokowi.

Begitupun Hendro Satrio, pengamat politik dari Universitas Paramadina. Dia tidak menampik, peluang Airlangga mendampaingi Jokowi sangat besar. “Apalagi, bila berhasil membuktikan Golkar bisa rebound,” jelasnya. Maka, Hendro mengusulkan agar Airlangga memilih kader muda di kepengurusannya.


Jokowi - Hartanto : sama-sama alumnis UGM

Misal, buat jabatan Sekjen, Hendro menyebut nama Ketua DPD Jawa Barat, Dedi Mulyadi, maupun Ketua Gerakan Muda Partai Golkar, Ahmad Dolly Kurnia. “Paling pas anak muda yang pejuang dan pekerja keras,” jelas Hendro, seraya menyebut kedua nama itu patut dipertimbangkan.

Golkar Nyaman

Selain itu, ada juga yang menyebut, “rumah” Golkar lebih nyaman ketimbang PDIP. Di sini pelbagai alasan menyembul ke permukaan. Salah satunya, soal adanya isu kader PDIP yang berasal dari keturunan partai terlarang. Bahkan, kader wanita itu, menyebut ada jutaan kader akan bangkit, seperti disinyalkan oleh Mayor Jenderal (Purn) Kivlain Zein.

Bahkan, orang dekat Prabowo ini, menyakini PKI bangkit kembali, khususnya jika pelarangan TAP MPRS No XXV tentang pelarangan PKI dicabut. Lagipula, selain mempersiapkan gedung di kawasan Kramat, Jakarta Pusat, “urang awak” ini menyebut sebuah partai lahan penyusupan dan sudah punya 15 juta massa.

Meskipun debatel, bahkan dianggap pepesan kosong, tapi pengakuan kader tersebut “menjauhkan” dengan umat Islam. Sebab, suara ummat Islam, tetap lumbung suara yang mampu “menguasai” parlemen, ataupun menjadi penguasa lima tahunan republik ini.

Lainnya, meskipun sebagai presiden yang diusung Partai Moncong Putih Banteng tersebut, tetap saja Jokowi hanya sekadar “petugas partai”. Sang Bos, tetap saja Megawati Soekarnoputri. Ingat saja, dalam Kongres di Bali, putri sulung Bung Karno itu, “menyentil” dan “menceramahi” Jokowi soal kemandian ekonomi, nawacita dan sebagainya.

Kondisi tersebut, banyak pihak menyebut, tetap saja membuat Jokowi tidak nyaman. Dia tetap saja “petugas partai”, tetap saja “anak kos” yang suatu saat bisa dimarahi oleh pemilik kos, termasuk anak  majikan.

Sementara di Golkar, partai yang habitatnya bersinergi dengan penguasa, kondisi tersebut tidak ditemui. Jokowi lewat menterinya yang akan dijadikan wapresnya mendatang, bakal tetap enjoy. Kerikil-kerikilnya tidak menganga seperti PDIP.  Apalagi Golkar berpengalaman dalam jagad politik negeri ini, tetap eksis, tetap berada di ring kekuasaan, sekalipun partai yang didirikan, dibesarkan  itu adalah  warisan Orde Baru.  

Jadi, tak usah heran, jika ada suara-suara yang menyebutkan Jokowi bakal melambaikan tangan kepada Megawati. (Lian)
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya