,
20 November 2017 | dibaca: 492 Kali
Setnov Mantan Sopir Pribadi
noeh21
Dikenal licin dan selalu lolos dari jeretan hukum, akhirnya Setnov tersandung di e-KTP. Ia kini ditahan dalam kondisi mengenaskan, dengan pelipis memar akibat kecelakaan lalu lintas.

Sosok Setya Novamto  lebih dikenal sebagai politisi. Apalagi sebagai kader Golkar, ia dekat dengan pusat kekuasaan, baik di era Orde Baru maupun di era reformasi saat ini.

Tapi, di luar politik, cerita hidup lelaki berkulit putih ini, patut mendapat acungan jempol. Selain pekerja keras, ayah beberapa anak ini memulainya dari bawah. Maklumlah, anak dari pasangan Mangunratsongko dan Julia Maria Sulastri bukan dibesarkan dari keluarga berada. Apalagi berdarah konglomerat.

Buktinya, saat kuliah di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, Jawa Timur, ia harus berjualan beras dan madu di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Uang bekal yang dikirim orang tuanya hanya cukup mendaftarkan kuliah.

“Saya bekerja keras agar bisa sekolah,” aku Setnov, seperti ditulis oleh Tempo. Selain itu, ia juga nyambi jadi staf penjualan PT Sinar Mas Galaxy, dealer mobil Suzuki. Bahkan, ia juga terpilih menjadi Pria Tampan Surabaya, 1975.

Lulus kuliah, Setnov pindah kerja ke P Aninda Cipta Perdana, penyalur pupuk PT Petrokimia Gresik untuk wilayah Surabaya dan Nusa Tenggara Timur, milik Haryono Isman, politisi Golkar yang hijrah ke Demokrat. Hayono adalah teman sekelas Setnov di SMAN 9 Jakarta.Saat  ini Hayono setelah kisruh di Demokrat, melompat ke Partai Nasdem, yang diawaki Surya Paloh, koleganya waktu di Demokrat.

Tahun 1982, Setnov balik ke Jakarta, menuruskan kuliah sarjana Akutansi di Trisakti. Ia tetap berkerja di pupuk, dan menumpang tinggal di rumah Haryono di Menteng. Di situlah, selain menjadi staf, ia juga merangkap sopir pribadi keluarga Haryono. Bahkan, rumah Setnov saat ini di Jalan Wijaya 18, Jakarta Selatan, adalah Wisma Mas Isman (ayahanda Hayono Isman), markas aslinya Kosgoro.

Lalu, namanya menjulang tinggi setelah kasus bank Bali, melompat mengurisi kas partai pohon Beringin. Meski dirundung pelbagai kasus yang menyandera karir politiknya, ia berhasil lolos dari jeretan hukum.

Tapi, di kasus e KTP, ia  benar-benar tersandung: dijadikan tersangka oleh KPK. Meski menang di praperadilan, tapi nasibnya tersungkur. KPK menemukan dua bukti permulaan yang membuatnya ditahan, saat tergolek terbaring di rumah sakit. Tanpa kompromi, KPK menggelendangnya ke sel tahanan buat pertama kalinya mencicipi pahitnya Hotel Prodeo.(Nur)
 
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya