,
22 Maret 2018 | dibaca: 1075 Kali
Puan dan Pramono Terseret
Ganjar Tinggal Menghitung Hari
noeh21

Jakarta Skandal

Kasus e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto melebar ke mana-mana. Kali ini, uang "haram yang mencapai" Rp 2,3 triliun ini menelusup ke ring satunya PDI Perjuangan: Pramono Anung dan Puan Maharani.

​​​​​​

Kedua nama itu digali oleh Jaksa   Komisi Pemberantasan Korupsi usai Setya Novanto menyebut kedua petinggi PDI-P tersebut menerima kucuran dana USD 500 ribu dalam proyek berbiaya Rp 5,9 triliun.

Sayangnya, ketika jaksa mempertegas soal peran keduanya memperlancar proyek e-KTP tadi siang, Kamis 22/3,  Setnov
mengaku tidak mengetahui peran keduanya dalam proyek e-KTP.

"Saya mohon maaf tidak tahu," ucap Novanto menjawab pertanyaan jaksa.

Hanya saja, mantan Ketua Umum Partai Golkar ini, memastikan saat itu putri sulung Megawati Soekarnoputri  menjabat sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI, sedangkan Pramono Anung Wakil Ketua DPR RI.

"Jabatan Puan ya Ketua Fraksi PDIP dan Pramono Wakil Ketua DPR," ucap Setnov

Selain Puan dan Pramono, Setnov juga telah menyebut adanya aliran dana yang mengucur ke pimpinan Badan Anggaran DPR dan pimpinan Komisi II DPR RI ketika proyek tersebut bergulir. Menurutnya, uang tersebut ada yang diberikan oleh Andi Narogong dan keponakannya Irvanto Hendra Pambudi.

Eh, tidak hanya di situ saja. Setnov juga menyebut nama Ganjar Pramono yang lagi bertarung di Pilkada Jawa Tengah. Tak percaya?  Dengar saja penuturannya pada Jaksa.

"Pertama, adalah untuk komisi dua Pak Chairuman sejumlah USD 500 ribu dan untuk Ganjar Pranowo sudah dipotong oleh Chairuman, dan untuk kepentingan pimpinan banggar sudah sampaikan juga ke Melchias Mekeng USD 500 ribu, Tamsil Linrung USD 500 ribu, Olly Dondokambey USD 500 ribu di antaranya melalui Irvanto," jelas Setnov.

Pengakuan Setnov tentang Ganjar ini, bukanlah pertama kali. Jauh sebelumnya Nazaruddin, mantan Bendahara Demokrat, juga ikut menyebut Ganjar kecipratan "bancaan jamaah" tersebut.

Namun, "nyanyian" Nazaruddin dibantah mati-matian oleh Ganjar, termaksud bantahan Andi Narogong yang tidak memberikan "bingkisan" kepada Gubernur Jawa Tengah tersebut.

Namun, setelah Setnov menyebut Ganjar, khalayak pun teringat sesumbar pernyataan Ketua KPK Agus Rahardjo yang menyebut beberapa peserta Pilkada terseret arus korupsi.

Bahkan beberapa media online menyebut salah satunya Ganjar, sehingga tim suksesnya berang melaporkan 4 media tersebut ke polisi. (Ian)
Berita Terkait
Berita Lainnya