,
07 Mei 2018 | dibaca: 652 Kali
Wartawan Pati Terbelah Dua, Berebut Nama FGD
noeh21
Usman


Pati Skandal

Kelompok kerja atau akrab dengan sebutan  Pokja selalu  jadi kerajaan para awak media yang diakui  oleh Humas Kabupaten Pati.

Bukan rahasia lagi, Kelompok Kerja sering mendapatkan kucuran dana dari APBD Pemerintah Kabupaten Pati melaui Humas.

Pokja selalu mengklaim  sebagai  kelompok yang suci dalam dunia  kewartawanan. Mereka juga suka memandang para awak media lain yang bukan kelompoknya di anggap najis, di pandang sebelah mata, malah mencibir sebagai wartawan di luar pagar.

Ngerinya lagi Pokja menuding wartawan di luar mereka sebagai wartawan amplop, wartawan bodrek alias wartawan bikin pusing kepala. 

Kini Pokja yang nota bene sebagai corongnya pemerintah, setelah berpuluh puluh tahun berkuasa, akhirnya runtuh juga,  dipicu adanya sejumlah wartawan di luar pagar yang merasa tersinggung oleh lontaran oknum oknum wartawan Pokja yang paling suci.

Kemudian muncul H.Istono, wartawan Reportase  ini justru mendukung kelompok wartawan sebelah, alias wartawan luar pagar  yang digawangi H. Istono, N. Aji Gunawan , Usman, Wiwit, Wiwik, Hendro, Tugiyono , Totok, Bambang, Sucipto dan lain lain.

Kemudian atas inisiasi dari H.Istono, kelompok wartawan mingguan  itu berniat menghadap Humas Pemkab Pati, Zain, dengan didampingi Agus Sunarko.

Dia  mengadukan haknya para wartawan mingguan dan bulanan yang  ingin mendapat perhatian dari Humas sebagaimana  wartawan Pokja yang dianggap paling suci. 

Setelah tak mendapat respon dari Humas, mereka  mendirikan kelompok baru, rapat di rumah H.Istono di Desa Gembong Pati pada minggu  tanggal 29 .11.16. Agenda rapat tersebut dihadiri 30-an lebih wartawan dari berbagai media, diinisiasi  oleh N.Aji Gunawan, wartawan era reformasi hingga munculah ide AJI PATI (aliansi jurnalis independen Pati)

Setelah berdiri kelompok wartawan Ajipati, Istono dan kawan kawan wartawan mingguan,  berniat menghadap Bupati Pati Haryanto. Istono menyampaikan kepada Bupati, hendaknya kelompok wartawan Ajipati dapat memberi kontribusi berbagi informasi bersama warga Pati dalam rangka membangun daerah Pati.

H Istono  mengatakan, di dalam kelompok wadah profesi wartawan masih tersimpan kepentingan kepentingan  oknum yang tidak gentleman berhadapan langsung dengan person person wartawan. Sayangnya mereka mamainkan skenario alias jadi dalang dengan modus mensetting orang lain untuk merebut posisi jabatan.

Padahal, beber Istono , oknum tersebut justru sudah tidak disukai oleh kelompok wartawan sok suci.  

"Mereka bergabung kamuflase dengan wartawan baru sehingga mudah diprovokasi. Kelompok mingguan ini diiming - imingi  janji jika oknum itu bisa jadi ketua  organisasi wartawan corong pemerintah," beber Istono kepada Skandal.

Padahal.menjelang  Pilkada Pati tahun 2017 Bupati kepada  seluruh wartawan Pati agar tidak ada lagi kelompok  wartawan, atau wartawan yang terkotak kotak. 

"Hanya ada satu kelompok wartawan, yaitu kelompok wartawan Pati," uangkap  Haryanto.  

Karena itu, Alman dari Pokja, dan Istono dari Ajipati sepakat mendirikan wadah baru yaitu forum Wartawan Pati, dengan Ketua Alman Eko Darmo, Sekretaris Agus Setyo, Bendahara H.Istono. Kelompok baru ini bernama FGD, alias Forum Group Diskusi wartawan Pati.

Menurut salah satu wartawan Pati, Usman.  FGD sebagai bentuk kegiatan Humas Pati bersama wartawan  untuk mengangkat isu isu terkait pembangunan pemerintah Kabupaten Pati.

Di awal terbentuknya FGD, Humas Pati memperhatikan wartawan  dengan dengan  memberi "upah" yang ikut dalam kegiatan FGD.

Usman juga menambahkan,sebelumnya wartawan Pati yang terdata oleh Humas pada setiap bulannya menerima uang transport.

Kebijakan Humas tersebut justru di salahkan oleh BPK dan BPKP,  karena di anggap tidak sesuai dengan tata kelola anggaran yang yang baik,sehingga di carilah solusi yang ideal yaitu mengadakan kegiatan FGD.

"Itu bukan bermaksut mendiskreditkan atau memojokan kepada  siapapun bahkan pihak manapun," terang Usman menirukan penjelasan Agus Sunarko.

Faktanya  kegiatan FGD belum mampu mempersatukan para wartawan Pati, justru  terpecah dua kubu.

Witcaksono alias Wiwid  menyebutkan
​​​kegiatan kelompoknya sering mewarnai kepentingan terhadap masyarakat. Contohnya,  meyambut ramadhon, mendirikan Posko mudik lebaran, di samping kegiatan jurnalistik dan  ikut meriahkan HUT Kemerdekaan dengan kegiatan gerak jalan serta HPN," terang N Ajipati Gunawan yang menyebutkan tidak rukun dan kompaknya wartawan Pati sudah puluhan tahun.

"Kini  para oknum yang sok suci itu tergilas hingga  berakhir runtuh. Era ini muncul para awak media online yang sangat luar biasa," tutur Ajie. (@jiip456)
Berita Terkait
Berita Lainnya