,
29 Maret 2018 | dibaca: 75 Kali
LAM-PTKes Dituding Tidak Profesional
noeh21
Jakarta, Skandal

Ketua Yayasan Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, (UTA 45) Drs. Bambang Sulistomo, putra pahlawan bangsa Bung Tomo, didampingi Virgo Simamora Rektor UTA 45 beserta Jajaran mendatangi kantor DPP Perkumpulan Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (Perkumpulan LAM-PTKes) di bilangan Pondok Pinang Jakarta Selatan pada Rabu (28/03/2018) pagi. 



Kedatangan Jajaran petinggi UTA 45 ini untuk meminta penjelasan dan klarifikasi, terkait hasil akreditasi yang dilakukan oleh Perkumpulan Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (Perkumpulan atau Ormas LAM-
​​​​PTKes) yang dinilai sangat subjektif, tidak Profesional dan sarat dengan kepentingan kelompok.  

"Kita kesini untuk minta penjelasan secara langsung, terkait akreditasi program studi Apoteker tentang penilaian hasil Akreditasi, sebab Perguruan Tinggi ini kan hidupnya sangat bergantung juga terhadap Akreditasi yang seharusnya di lakukan oleh Pemerintah namun untuk program study Ilmu kesehatan di kuasakan kepada sebuah lembaga Perkumpulan atau Ormas swasta, tadi kita sudah bertemu dengan orang yang dianggap bertanggung jawab,  Kepala Divisi Farmasi,  Ibu Diana dan Prof Sutrisno Wakil Ketua Perkumpulan LAM-PTKes, kita sudah memberikan penjelasan terkait keberatan kami,  mereka sudah mengerti keberatan-keberatan kita," ujar Bambang menjawab pertanyaan media seusai bertemu dengan pengurus Perkumpulan LAM-PTKes.

Konflik ini bermula ketika Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta kedatangan Team assesor untuk melakukan Akreditasi terhadap program studi Apoteker yang berada di bawah Fakultas Farmasi. 

"Kemarin kita ada ganjalan terkait kedatangan Team assesor dari Perkumpulan LAMPTKes di kampus UTA 45 dalam rangka Akreditasi program studi Apoteker, karena yang di Akreditasi itu adalah PSPA (Pendidikan Apoteker) yang bagi kami sangat penting bagi kehidupan manusia,  seperti halnya Profesi Dokter. Jika pendidikan kami dinilai tidak bermutu,  maka lulusannya juga tidak bermutu, dan kami di Akreditasi oleh Assesor yang sangat tidak objektif dan sangat terlihat membawa kepentingan kelompoknya, karena kami merasa Dokumen-dokumen serta sarana dan prasarana yang dinilai cukup lengkap dan baik, namun diberi penilaian buruk oleh para Assesor," Ujar Rektor UTA 45 yang ditimpali oleh Stefanus selaku kepala bidang study Apoteker Farmasi UTA 45 Jakarta. 

Menurutnya, hal ini sangat berdampak dan punya pengaruh  besar terhadap para Lulusan Apoteker UTA 45, Mereka akan sulit masuk dan bekerja di Pemerintahan atau lembaga BUMN.

Padahal, menurutnya, banyak mahasiswa UTA 45 yang mendapat beasiswa dari Pemerintah. "ni akan menjadi Ironi jika penilaian Akreditasi kampus menurun. Di  satu sisi institusi pendidikan ini sangat memperhatikan kebutuhan dan perkembangan keilmuan pada bidang kefarmasian," tutur Stefanus.

Pihaknya, kata Stefanus, ingin mengklarifikasi terkait penilaian Akreditasil, sehingga menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan, namun assesor yang dikirim tidak objektif.

"Kami berterima kasih karena para pimpinan Lembaga Perkumpulan LAMPTKes menerima semua keluhan kami terkait sikap-sikap assesor yang kurang bersahabat dan sebagainya. Mereka akan memperbaiki penilaian dan kami diminta untuk mengajukan banding untuk perbaikan penilaian secara resmi. Kami akan banding sesuai permintaan dari mereka," ujar Stefanus.
Berita Terkait
Berita Lainnya