,
02 Desember 2017 | dibaca: 263 Kali
Makna Milad GAM Bagi Sang Senator
noeh21
H. Uma


Jakarta, Skandal

Tanggal 4 Desember merupakan salah satu tonggak sejarah bagi Aceh. Pada tanggal 4 Desember 41 tahun lalu, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pertama kalinya diproklamirkan secara resmi oleh almarhum Dr. Muhammad Hasan di Tiro selaku Wali Nanggroe di Gunong Halimon, Pidie pada Tahun 1976.

Semangat perjuangan gerakan perlawanan ini lahir sebagai reaksi atas akumulasi kekecewaan terhadap pemerintah pusat yang saat itu dinilai sangat sentralistik dan bertindak tidak adil bagi masyarakat Aceh, baik dalam-sektor ekonomi, sosial maupun politik. Dari sini, kesadaran dan nasionalisme Aceh lahir dan berkembang untuk kemudian mengkonsolidasi diri melawan tindak perlakuan pemerintah pusat.

Setelah itu, kemudian pada setiap tahunnya hari lahir atau milad GAM selalu diperingati, skalanya semakin meluas paska reformasi bahkan hingga kini paska perjanjian damai dengan Pemerintah Indonesia yang berlangsung 15 Agustus 2005 lalu. Bertepatan tanggal 4 Desember 2017 ini, mayoritas dari masyarakat Aceh terutama para mantan aktivis GAM kembali akan memperingati Milad GAM ke 41 di berbagai daerah di Aceh.

Bagi H. Sudirman atau Haji Uma yang tak lain merupakan senator asal Aceh, Milad GAM bagi dirinya memiliki nilai dan makna tersendiri. Menurutnya, semangat perjuangan dan kerelaan diri mengorbankan kemapanan hidup pribadi demi membela Aceh yang ditunjukkan Teungku Muhammad Hasan di Tiro sebagai proklamator GAM adalah sebuah sikap yang harus terus direproduksi dan menjadi teladan bagi seluruh masyarakat Aceh. 

"Peringatan Milad GAM adalah sebuah refleksi atas perjalanan panjang dari sebuah perjuangan cita-cita kedaulatan, martabat, keadilan dan kesejahteraan rakyat Aceh", ujar Haji Uma.

Harapannya, melalui Milad GAM yang diperingati setiap 4 Desember dapat menjadi momentum untuk menanamkan nilai dan semangat sebuah perjuangan yang dicetus almarhum Teungku Hasan di Tiro kepada generasi Aceh. Siapapun kita dan dimanapun kita, sebagai orang Aceh maka secara moral wajib untuk menyumbang pikiran dan energi sebagai kontribusi dalam membangun dan memajukan Aceh.

"Makna merdeka sebagai tujuan perjuangan, selain memisahkan diri adalah merdeka dari kesewenangan, dari kemiskinan dan kebodohan, merdeka menentukan apa yang terbaik bagi Aceh baik dalam bidang budaya, ekonomi, agama, pendidikan dan politik. Dalam hal ini tentu saja Aceh dalam bingkai NKRI", ujar Haji Uma.

Menurut Haji Uma, kondisi Aceh hari ini dimana sejumlah persoalan kerakyatan masih menyeruak dan menjadi tantangan kita semua, terutama kemiskinan dan kesejahteraan. Karena itu, semangat perjuangan yang pernah tertanam harus terus tumbuh dan mekar sebagai salah satu modal sosial kita dalam mewujudkan Aceh yang makmur dan sejahtera serta bermartabat.(Dima)

Berita Terkait
Berita Lainnya