,
06 Februari 2018 | dibaca: 324 Kali
Oknum Ketua DPD Berkarya Jepara Diduga Gelapkan Dana Operasional
noeh21
Pengurus Partai Berkarya Jateng

Skandal-jepara.

Gonjang ganjing Partai Berkarya belum juga redup. Setelah “disusupi”  kader  partai tetangga sebelah, bertindak indsipliner dan menggerogoti partai demi kepentingan pribadi maupun kelompoknya, kini menguak ke permukaan soal kader yang menilep dana operasional partai

Siapa orangnya? Kader partai yang didirikan oleh putra bungsu Jenderal Besar HM Soeharto ini pasti akan menyebut pentolan DPD Berkarya Jepara, AT. Ia diduga menilep uang yang disetorkan DPW untuk operasional DPD.

Setoran DPW itu tidak sama. Ada Rp 500 ribu ataupun Rp 300 ribu. “Uang tersebut sebenarnya digunakan untuk biaya operasional. Jadi, ya kita dukung saja,” jelas sumber dari kalangan DPW kepada Skandal.

AT sendiri tidak menampik. Dia menerima donasi tersebut.

 "Duit segitu sampai mana mas? Itu saya gunakan untuk membeli durian dan suguhan lainya bagi petugas KPU  yang datang verifikasi di rumah saya. Kemarin,petugas yang datang berjumlah 15 orang. Anggaran segitu apa cukup mas," jelas AT seraya menyusul Skandal di warung nasi angkringan.

Kebetulan di warung angkringan itu ada beberapa pengurus DPD lainnya. Mereka juga membenarkan alasan AT tadi. Hanya saja, soal menyuguhkan petugas KPU yang melakukan verifikasi, ada dana tersendiri, di luar setoran DPW.

“Saya sudah beri dia dana untuk menyuguhkan petugas KPU kok. Itu tersendiri lho,” jelas kader Berkarya, Nasuka. Menurutnya, agar tidak simpang siur, agar diinfokan soal bantuan kepada semua pengurus. Itu semua agar transparan.

Kiswadi, Sekretaris DPD Berkarya, juga mengaku sudah memberikan “uang suguhan” kepada petugas KPU. Bahkan, AT pun mengutarakan niatnya membelikan durian

“Saya tidak eman setiap AT meminta sarana untuk kepentingan organisasi. Saya tidak masalah, asal  transparan dan obyektif, " ujar Kiswadi yang juga Ketua PGRI dan Ketua Persatuan Senam Aerobic Jepara.

Sayangnya, ketika digelar rapat pengurus DPD (25-01-2018) tentang dana bantuan dari DPW, AT tidak mengakuinya.

Padahal, Rasyidi, Bendahara DPD Berkarya Jepara, pernah mendengar adanya dana setoran Rp 300 ribu. “Cuma saya belum pernah menerima uang tersebut,” akunya  terus terang. Dia baru menerima dana operasional Rp 7.5 juta, bantuan dari DPP. “Itu pun karena diajak,” tandasnya.

Karena adanya mismanajemen tersebut, ditambah pendidikan yang minim, membuat kader Berkarya di Jepara jadi uring-uringan. Mereka khawatir, partai ini hanya jadi “penonton” di Pilpres mendatang, lantaran minimnya SDM “pentolan” DPD Berkarya. (007)

Berita Terkait
Berita Lainnya