,
01 Mei 2018 | dibaca: 56 Kali
Kota Tua Masuk 5 Unggulan Wisata Jakarta dan 10 Besar Nasional
noeh21
Ketua UPK Kota Tua, Novriadi S Husodo MSi
Jakarta, Skandal

Kawasan Kota Tua yang berada di Jalan Taman Fatahilah, Jakarta Barat masuk dalam lima besar unggulan destinasi wisata Provins DKI Jakarta, setelah Ancol, Ragunan, Taman Mini dan Monas. 

"Alhamdulillah," ungkap Ketua Unit Pengelola Kawasan Kota Tua, Novriadi S Husodo MSi dalam bincang-bincang 
Skandal, Sabtu 30/5 lalu.



Bahkan, prestasi yang ditorehkan Kota Tua, juga menembus 10 besar destinasi wisata  nasional. "Itu klaim dari Kementerian Pariwisata," tambah Novrie, menyebut wisata nasional itu meliputi Danau Toba, Raja Ampat, Komodo, Candi Prambanan dan sebagainya.

Karena masuk lima besar unggulan, lanjut Novri, maka Kota Tua  menjadi salah satu primadona Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal itu dapat dilihat dari statistik pengunjung per hari rata- rata 1.800. 

100 ribu

Sedang hari libur, Sabtu dan Minggu jumlah pengunjung meningkat, mencapai sekitar 3.000 orang per hari. Tapi, jika liburan panjang, seperi anak sekolah, bisa mencapai 100 ribu pengunjung.

"Berapa uang yang masuk per hari dari tiket masuk, tanya saja ke Dispenda" jelasnya. Belum lagi dari pajak penjualan,  seperti cafe, resto maupun jejeran para pedagang di Kota Tua maupun seputar Taman Fatahilah. "Itu tanya saja di kantor pajak," sambung Novri.

Karena itu, agar pengunjung tidak tumplek di Kota Tua yang menjadi pusat dan intinya, maka sub wisata Kota Tua seperti Pekojan, Pecinaan, Luar Batang, Sunda Kelapa dan Glodok terus dikembangkan. "Lima sub wisata itu punya karakteristik masing-masing.

Misalnya di Pekojan ada masjid tua, makam keramat dan perkampungan Islam. Di Pecinaan, ada vihara dan klenteng yang usianya ratusan tahun.

Sedangkan di Luar Batang ada budaya masyarakat pesisir, Glodok akan dikembangkan budaya belanja. Begitupun Sunda Kelapa dengan Musuem Baharinya merupakan cikal bakal lahirnya Kota Jakarta.

"Sementara Taman Fatahilah ataupun Kota Tua merupakan pusat pemerintahan," tutur Novri, 48 tahun. Di tempat itu ada tiga museum: wayang, keramik dan sejarah Jakarta.

Menurut Novri, lima sub wisata yang memiliki karakteristik itu tetap dikembangkan secara bertahap dan berkelanjutan, ditambah promosi dan penerbitan.

"Pengembangan wisata di Jakarta bukan hanya tanggungjawab UPK, juga masyarakat," tutur Novri. Dia menolak prestasi yang ditorehkan Kota Tua berkat kepemimpinannya dua tahun mengawaki warisan sejarah leluhur bangsa.

"Ini kerja tim seluruh UPK," ujarnya tersenyum sumringah. (Lian Lubis)
Berita Terkait
Berita Lainnya